Pemerintah Kanada secara resmi mengumumkan langkah balasan terhadap kebijakan tarif Amerika Serikat. Mulai 1 Juli 2018, Kanada akan memberlakukan tarif impor baru senilai 12,6 miliar dolar Kanada (sekitar Rp135 triliun) untuk berbagai produk asal Amerika Serikat. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap tarif yang sebelumnya dikenakan oleh AS terhadap produk baja dan aluminium Kanada.
Menteri Keuangan Kanada, Bill Morneau, dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa keputusan ini diambil sebagai bentuk pertahanan terhadap kepentingan ekonomi nasional. “Kami tidak punya pilihan selain mengambil tindakan ini untuk melindungi pekerja dan industri Kanada,” ujar Morneau. Ia menambahkan bahwa Kanada akan terus berupaya mencari solusi diplomatik, namun tidak akan ragu untuk membela diri.
Tarif balasan Kanada mencakup beragam produk, mulai dari produk pertanian seperti keju, yogurt, dan daging babi, hingga produk industri seperti mesin, kendaraan, dan elektronik. Sektor-sektor yang paling terdampak oleh kebijakan ini berasal dari negara bagian AS yang memiliki hubungan dagang kuat dengan Kanada, seperti Ohio, Michigan, dan Wisconsin. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya telah menetapkan tarif sebesar 25% untuk impor baja dan 10% untuk impor aluminium dari Kanada dan Meksiko, dengan alasan keamanan nasional.
Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, telah menyatakan kekecewaannya atas keputusan AS tersebut. “Ini adalah langkah yang tidak dapat diterima,” kata Trudeau pada Mei 2018. Ia menekankan bahwa produk baja dan aluminium Kanada tidak menimbulkan ancaman keamanan bagi AS. Kanada berpendapat bahwa tindakan AS melanggar aturan perdagangan internasional, termasuk perjanjian yang ada.
Langkah balasan Kanada ini diharapkan dapat memberikan tekanan balik kepada pemerintah AS untuk mempertimbangkan kembali kebijakan tarif mereka. Perang tarif ini berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kedua negara, serta mengganggu rantai pasok global dan stabilitas ekonomi dunia. Analis memperkirakan bahwa negosiasi antara kedua negara akan semakin intensif dalam beberapa waktu ke depan.
