Teheran – Lautan manusia memadati jalanan pusat Teheran pada hari terakhir masa berkabung tiga hari. Jutaan warga Iran turut serta dalam prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Perjalanan terakhir jenazah Khamenei, yang diarak dengan truk terbuka bersama empat anggota keluarganya, membentang dari Lapangan Imam Husein hingga Lapangan Azadi.
Media pemerintah melaporkan bahwa jalan-jalan utama dipenuhi pelayat. Mereka mengibarkan bendera Iran dan spanduk merah yang melambangkan kemarahan. Poster-poster bertuliskan "Kita Harus Bangkit" juga terlihat. Sebagian lainnya menyerukan kematian Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dituding sebagai dalang serangan gabungan ke Iran empat bulan lalu. Serangan tersebut memicu perang yang merenggut ribuan nyawa. Di jembatan, para pelayat melempari sebuah billboard bergambar Trump dengan batu. "AS telah membunuh ayah kami. Kami tidak akan membiarkan Anda pergi!" seru mereka.
Melika Nourian, mahasiswi 22 tahun, menyatakan kehadirannya dengan bangga. "Untuk menunjukkan kepada seluruh dunia betapa kami mencintainya dan betapa kami berkomitmen pada sistem, rakyat, dan Republik Islam," ujarnya kepada AFP.
Mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad tampak hadir dalam prosesi tersebut, menandai kemunculan publik pertamanya pasca perang. Tiga pengawalnya dilaporkan tewas dalam serangan dekat kediamannya. Presiden Iran saat ini, Masoud Pezeshkian, juga terlihat berjalan di antara kerumunan. Sebelumnya, ia menulis di X bahwa Khamenei mengajarkan pentingnya persatuan rakyat Iran sebagai aset terbesar negara. Ia berjanji akan melanjutkan kejayaan Iran.
Tokoh penting lainnya yang hadir antara lain Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei, dan Panglima Pasukan Quds Brigjen Esmail Qaani. Namun, Mojtaba Khamenei, putra almarhum, tidak terlihat di depan publik.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengklaim Ali Khamenei "dieliminasi oleh Israel" karena mengancam eksistensinya. "Pemimpin Iran mana pun yang kembali berupaya menghancurkan Israel akan dibunuh juga," tegasnya.
Ali Khamenei, 86 tahun, memimpin Iran sejak 1989. Ia dikenal mengukuhkan cengkeraman kekuasaan dan mengambil sikap keras terhadap AS dan Israel. Pihak berwenang Iran berupaya menjadikan upacara pemakaman ini sebagai unjuk kekuatan pasca perang dan protes massal Januari lalu.
Ayatollah Mohammad Saidi dari Qom menyatakan kehadiran besar dalam pemakaman akan menjadi referendum bagi Republik Islam. Upacara ini berlangsung kurang dari tiga minggu setelah Iran dan AS menandatangani kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Kedua negara memiliki waktu dua bulan untuk mencapai kesepakatan final mengenai program nuklir Iran, sanksi AS, dan gencatan senjata permanen.
Perundingan di Doha pekan lalu dilaporkan menunjukkan kemajuan positif. Pertemuan berikutnya dijadwalkan setelah upacara pemakaman selesai. Prosesi serupa akan digelar di Qom pada Selasa, sebelum berlanjut ke Karbala dan Najaf di Irak pada Rabu. Ali Khamenei akan dimakamkan di Mashhad pada Kamis.











