Serial komedi ‘Modern Family’ yang tayang dari tahun 2009 hingga 2020 sukses menghibur penonton dengan humornya yang segar dan sentuhan emosional yang mendalam. Gaya penceritaan mockumentary yang unik memungkinkan penonton merasa seperti pengamat langsung kehidupan keluarga Pritchett. Bagi penggemar setia yang telah menamatkan 11 musimnya dan mencari tontonan serupa, ada satu film yang sangat direkomendasikan, yaitu ‘Real Life’ yang ditulis bersama dan disutradarai oleh Albert Brooks.
‘Real Life’, yang dirilis pada tahun 1979, mungkin belum sepopuler film lainnya, namun ia adalah pelopor genre mockumentary. Tanpa film ini, mungkin kita tidak akan mengenal ‘The Office’ atau ‘Modern Family’. ‘Real Life’ hadir sebagai satir terhadap serial televisi ‘An American Family’ yang tayang di PBS pada awal 1970-an, yang dianggap sebagai cikal bakal televisi realitas. Albert Brooks melihat potensi komedi dari konsep dokumenter kehidupan keluarga sungguhan.
Dalam ‘Real Life’, Albert Brooks memerankan dirinya sendiri, seorang komedian muda yang bercita-cita menjadi pembuat film dokumenter. Ia berencana mendokumentasikan sebuah keluarga Amerika dan juga tim produksinya. Namun, apa yang terjadi justru menjadi sebuah sindiran kocak terhadap semua pihak yang terlibat. Keluarga yang didokumentasikan mulai retak di bawah tekanan, sementara tim produksi terpecah belah akibat manuver Brooks yang meragukan secara etika demi menciptakan drama. Brooks sendiri digambarkan sebagai sosok yang tidak tulus dan memiliki ego yang sangat besar.
Meskipun ‘Real Life’ memiliki nuansa yang lebih gelap dibandingkan ‘Modern Family’, film ini adalah pelopor genre mockumentary dan menyajikan kelucuan yang mendalam. Bagi Anda yang menyukai pendekatan komedi ‘Modern Family’, film-film berikut juga patut dipertimbangkan.
Film ‘Parenthood’ (1989) menawarkan komedi yang berakar pada realitas kehidupan keluarga. Disutradarai oleh Ron Howard dan ditulis oleh Lowell Ganz serta Babaloo Mandel, film ini menceritakan kisah keluarga Buckman yang luas dan penuh kekacauan, banyak diadaptasi dari pengalaman pribadi para pembuatnya. Dibintangi oleh Steve Martin, film ini menyajikan banyak momen tawa.
‘Little Miss Sunshine’ (2006) mengandalkan kekuatan karakternya yang ‘tidak sempurna’. Film ini mengikuti perjalanan keluarga Hoover yang harus mengantar putri bungsu mereka, Olive, ke sebuah kontes kecantikan yang berjarak ribuan mil. Dalam perjalanan, dinamika keluarga yang disfungsional, rasa tidak aman, kemarahan, dan cinta mereka terungkap dengan cara yang lucu, berujung pada klimaks yang mengharukan.
Sementara itu, ‘The Family Stone’ (2005) menggali ketegangan yang muncul dalam hubungan keluarga. Film ini bercerita tentang Meredith, seorang wanita yang cemas, yang bertemu dengan keluarga kekasihnya yang sangat kompak untuk pertama kalinya saat Natal. Kecanggungan dan upaya Meredith yang semakin panik untuk disukai justru memperburuk keadaan, memicu pengungkapan emosional.
Berdasarkan novel semi-otobiografi, ‘Cheaper by the Dozen’ (2003) menyajikan komedi ringan tentang keluarga besar. Film ini mengikuti Tom Baker (Steve Martin) yang harus mengurus rumah tangga penuh anak-anak yang ramai dan kacau ketika istrinya sedang tur buku. Film ini juga mengeksplorasi ikatan antar saudara dan orang tua.
Terakhir, ‘Home for the Holidays’ (1995), yang disutradarai oleh Jodie Foster, memahami kompleksitas keluarga. Film ini menggambarkan bagaimana keluarga bisa menjadi sumber kelucuan, cinta, kekesalan, dan dukungan secara bersamaan. Film ini mengikuti Claudia (Holly Hunter) yang pulang untuk merayakan Thanksgiving di saat terendahnya, dan meskipun dihadapkan pada kekacauan, ia menemukan bahwa tidak ada tempat lain yang lebih ia inginkan.
