Dua keluarga Palestina di desa Qusra, Tepi Barat, dilaporkan terjebak di rumah mereka sejak Minggu. Mereka menghadapi kondisi mengerikan dengan pasokan air dan listrik yang diputus, di tengah pengepungan oleh pemukim Israel.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam terhadap keselamatan dan kesejahteraan warga sipil di wilayah yang bergejolak tersebut. Laporan awal mengindikasikan bahwa pemutusan fasilitas dasar ini merupakan bagian dari taktik intimidasi yang semakin sering terjadi.
Menurut saksi mata yang enggan disebutkan namanya demi keamanan, pengepungan tersebut telah berlangsung selama beberapa hari, membuat kedua keluarga tersebut terisolasi sepenuhnya. Mereka tidak dapat keluar rumah maupun menerima bantuan.
Pihak berwenang Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini. Namun, kelompok-kelompok hak asasi manusia internasional telah berulang kali menyerukan agar Israel menghentikan tindakan yang dinilai melanggar hukum internasional, termasuk pemutusan fasilitas vital bagi warga Palestina.
Ketegangan di Tepi Barat memang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir, dipicu oleh perluasan permukiman ilegal Israel dan kekerasan yang dilakukan oleh para pemukim terhadap warga Palestina. Insiden di Qusra ini menambah daftar panjang pelanggaran yang dilaporkan terjadi.
Pihak keamanan Palestina dilaporkan sedang berupaya untuk menembus blokade dan memberikan bantuan darurat kepada kedua keluarga tersebut. Namun, akses mereka juga dibatasi oleh kehadiran pasukan Israel di sekitar desa.
Organisasi kemanusiaan internasional mendesak agar PBB segera turun tangan untuk memastikan keselamatan warga sipil dan menghentikan pelanggaran hak asasi manusia yang terus berlanjut di wilayah pendudukan.
