Inggris pernah menghadapi tantangan serius dari kelompok garis keras Yahudi bernama Irgun. Gerakan ini, yang aktif pada masa Mandat Inggris di Palestina, melancarkan serangkaian aksi yang membuat otoritas Inggris kewalahan dan terdesak.
Irgun, yang didirikan pada tahun 1931, berawal dari perpecahan dalam organisasi Haganah. Kelompok ini memiliki pandangan yang lebih radikal dalam memperjuangkan pendirian negara Yahudi. Mereka menolak segala bentuk kompromi dengan Inggris dan memilih jalur konfrontasi bersenjata.
Salah satu aksi paling terkenal dari Irgun terjadi pada tanggal 22 Juli 1946. Kelompok ini menyerang Hotel King David di Yerusalem, yang saat itu menjadi markas besar administrasi Inggris. Serangan tersebut menewaskan 91 orang, termasuk pejabat Inggris, Yahudi, dan Arab, serta melukai 46 lainnya. Aksi ini mengguncang Inggris dan menimbulkan kecaman internasional.
Tujuan utama Irgun adalah mengakhiri Mandat Inggris dan membuka pintu bagi imigrasi Yahudi secara massal ke Palestina. Mereka percaya bahwa hanya dengan tindakan tegas, tujuan nasional Yahudi dapat tercapai. Menachem Begin, yang kelak menjadi Perdana Menteri Israel, adalah salah satu pemimpin terkemuka Irgun dan memainkan peran sentral dalam strategi kelompok ini.
Di bawah kepemimpinan Begin, Irgun melakukan berbagai operasi, termasuk pengeboman, serangan terhadap instalasi militer Inggris, dan pembebasan tahanan Yahudi. Aksi-aksi ini, meskipun kontroversial, berhasil menarik perhatian dunia terhadap perjuangan Yahudi di Palestina dan memberikan tekanan signifikan pada pemerintah Inggris.
Pemerintah Inggris merespons dengan meningkatkan keamanan dan melakukan operasi penangkapan terhadap anggota Irgun. Namun, upaya ini tidak sepenuhnya berhasil menghentikan aktivitas kelompok tersebut. Ketegangan terus meningkat, yang pada akhirnya turut berkontribusi pada keputusan Inggris untuk menarik diri dari Palestina pada tahun 1948.
Kisah Irgun menjadi pengingat akan kompleksitas sejarah di Palestina pada era Mandat Inggris. Kelompok ini, dengan metode perlawanannya yang keras, meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam upaya pembentukan negara Israel dan dalam hubungan antara Inggris dan gerakan Zionis.
