Jakarta – Dunia internasional menyoroti beragam peristiwa penting, mulai dari persiapan pemakaman mendiang mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dijadwalkan dimulai Sabtu (4/7) mendatang, hingga dampak mematikan gelombang panas ekstrem di Eropa yang telah merenggut lebih dari 1.300 jiwa. Di sisi lain, panggung politik Amerika Serikat kembali memanas dengan kritik pedas dari mantan Presiden Joe Biden terhadap Presiden Donald Trump. Ketiga isu ini menjadi sorotan utama dalam kilas berita internasional hari ini, Selasa (30/6), menunjukkan kompleksitas dinamika global dari ranah politik, kemanusiaan, hingga lingkungan.
Pemerintah Iran saat ini tengah disibukkan dengan berbagai persiapan detail untuk prosesi pemakaman mendiang mantan Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei. Rangkaian upacara penghormatan jenazah direncanakan akan berlangsung di tiga kota penting di Iran. Ibu kota Tehran dan kota suci Qom menjadi lokasi awal digelarnya upacara tersebut, dengan jadwal dimulainya pada 4 Juli. Laporan dari kantor berita Mehr, yang mengutip sejumlah pejabat tanpa menyebutkan identitas, menggarisbawahi skala besar acara ini.
Tidak hanya di Iran, prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei juga akan melibatkan koordinasi internasional. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Minggu (28/6) mengungkapkan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi erat dengan Irak. Tujuannya adalah untuk membentuk mekanisme khusus guna penyelenggaraan upacara pemakaman di tempat-tempat suci Syiah yang berlokasi di Irak. Ini menunjukkan pentingnya sosok Ali Khamenei yang terbunuh tersebut bagi umat Syiah dan negara-negara di kawasan. Pemakaman seorang pemimpin tertinggi di Iran selalu menjadi peristiwa kenegaraan yang sangat signifikan, sering kali menarik jutaan pelayat dan memiliki implikasi politik serta keagamaan yang mendalam bagi Republik Islam tersebut.
Sementara itu, benua Eropa sedang berjuang menghadapi krisis kemanusiaan akibat gelombang panas ekstrem atau heatwave yang melanda beberapa negara sejak Juni. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan angka kematian yang sangat mengkhawatirkan, mencapai lebih dari 1.300 orang akibat fenomena cuaca ekstrem ini. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa gelombang panas kini telah menjadi fenomena tahunan yang semakin mengkhawatirkan, bukan lagi insiden langka.
Ghebreyesus menekankan bahwa heatwave sering disebut sebagai "pembunuh diam-diam" karena dampaknya yang sering kali tidak terlihat secara langsung namun mematikan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Infrastruktur di Eropa, termasuk sekolah dan perkantoran, tidak dirancang untuk menahan suhu ekstrem seperti yang terjadi saat ini. Akibatnya, banyak sekolah terpaksa ditutup untuk melindungi siswa dan staf dari bahaya sengatan panas, sementara jaringan listrik di beberapa wilayah mulai mengalami kolaps karena peningkatan permintaan pendingin udara yang masif. Kondisi ini menyoroti urgensi adaptasi terhadap perubahan iklim dan peningkatan kapasitas sistem kesehatan publik untuk menghadapi bencana cuaca ekstrem.
Di tengah kabar duka dan krisis lingkungan, arena politik Amerika Serikat kembali diramaikan oleh perang kata-kata. Mantan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, melancarkan kritik tajam terhadap Presiden Donald Trump dalam sebuah pidato yang mengguncang. Biden tidak segan-segan menyebut Trump sebagai "pecundang" dan "korup," mengindikasikan ketegangan politik yang terus memanas menjelang potensi kontestasi mendatang.
Kritik Biden menyentuh beberapa poin sensitif. Ia menyoroti renovasi Gedung Putih untuk sebuah ballroom yang dianggap tidak perlu, serta upaya penggantian nama John Kennedy Center for the Performing Arts dengan imbuhan "Trump." Lebih lanjut, Biden juga menyinggung pemerintahan Trump yang memberikan kompensasi kepada orang-orang yang dihukum atas tuduhan kekerasan di Capitol Hill pada Januari 2021, sebuah peristiwa yang masih menyisakan luka dalam sejarah politik AS. "Wow! Sungguh pecundang!" kata Biden, dikutip oleh The Guardian, menunjukkan kekesalannya yang mendalam.
Selain itu, Biden juga mengangkat isu renovasi Reflecting Pool Lincoln Memorial. Proyek yang menghabiskan dana sebesar US$14,7 juta tersebut dituding dilakukan tanpa sistem kontrak yang transparan dan hanya diberikan kepada pendukung Trump. Serangan-serangan ini menunjukkan upaya Biden untuk merusak citra Trump di mata publik, menggali isu-isu etika dan tata kelola pemerintahan yang pernah menjadi sorotan selama masa jabatan Trump. Perseteruan politik antara dua tokoh besar ini diperkirakan akan terus berlanjut dan semakin intens seiring berjalannya waktu, membentuk narasi politik AS ke depan.
Dari rencana pemakaman yang sarat makna politik dan keagamaan di Iran, krisis kemanusiaan akibat gelombang panas di Eropa, hingga tensi politik yang memanas di Amerika Serikat, dunia terus bergerak dengan beragam tantangan dan dinamika. Setiap peristiwa memiliki dampak globalnya sendiri, menuntut perhatian dan respons dari berbagai pihak, baik pemerintah, organisasi internasional, maupun masyarakat luas. Perkembangan dari ketiga isu ini akan terus menjadi pantauan utama media dan publik di seluruh dunia.
