Iran Kembali Menutup Selat Hormuz, Pasar Energi Global Kembali Bergejolak

Rini Widiyarti

JAKARTA – Keputusan Iran untuk kembali menutup jalur strategis Selat Hormuz pada Sabtu (20/6) memicu gelombang kekhawatiran baru di pasar energi global. Langkah mendadak ini datang hanya berselang beberapa hari setelah pasar sempat merasakan lega menyusul kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Penutupan kembali selat vital yang dilalui sepertiga pasokan minyak dunia ini dinilai berpotensi besar mengganggu rantai distribusi energi global dan kembali mengguncang stabilitas pasar keuangan internasional yang sebelumnya menunjukkan tren positif.

Langkah Iran ini sontak menimbulkan pertanyaan mengenai nasib kesepakatan sementara yang baru saja dicapai pada 17 Juni 2026. Kesepakatan tersebut, yang melibatkan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, sebelumnya digadang-gadang akan membuka kembali Selat Hormuz dan menjadi fondasi awal menuju perundingan lanjutan terkait isu nuklir Iran. Pejabat senior Amerika Serikat sempat menyatakan optimisme, menyebut perjanjian tersebut sebagai "langkah awal menuju pembicaraan lanjutan terkait isu nuklir Iran," seperti dikutip dari Associated Press pada Minggu (21/6/2026).

Kesepakatan sementara itu sendiri memuat beberapa poin krusial. Iran berkomitmen untuk mengencerkan stok uranium yang diperkaya tingkat tinggi, sebuah langkah yang diharapkan dapat meredakan kekhawatiran internasional mengenai program nuklirnya. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat setuju untuk mencabut sejumlah sanksi ekonomi, yang memungkinkan Iran kembali mengekspor minyaknya tanpa hambatan. Selain itu, kedua negara juga sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, sebuah upaya untuk membuka jalan menuju penghentian permanen konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.

Dampak positif dari kesepakatan awal ini terasa signifikan di pasar global. Harga minyak mentah Brent sempat menunjukkan tren penurunan yang tajam, bahkan turun di bawah level USD80 per barel untuk pertama kalinya sejak Maret 2026, setelah sebelumnya merosot sekitar 5% pada 16 Juni. Sehari setelah kesepakatan, harga Brent kembali melemah dan diperdagangkan di kisaran USD77,78 per barel, memberikan indikasi pemulihan pasokan dan meredanya ketegangan geopolitik.

Tak hanya pasar komoditas, pasar saham Amerika Serikat juga turut merasakan sentimen positif. Indeks Dow Jones Industrial Average berhasil mencetak rekor intraday baru di level 52.281,19 pada 17 Juni. Indeks saham perusahaan berkapitalisasi kecil, Russell 2000, juga menunjukkan performa impresif dengan lonjakan lebih dari empat persen dalam sepekan menjelang tercapainya kesepakatan AS-Iran. Sesi perdagangan terakhir sebelum libur Juneteenth pada 18 Juni juga ditutup dengan penguatan. Indeks Nasdaq Composite naik sekitar 1,9%, sementara S&P 500 menguat 1,1%. Secara mingguan, Nasdaq mencatat kenaikan 2,4%, sementara Dow Jones dan S&P 500 masing-masing naik hampir satu persen.

Namun, optimisme tersebut kini terancam pupus dengan keputusan Iran menutup kembali Selat Hormuz. Penutupan ini bukan kali pertama terjadi dan selalu menjadi perhatian utama militer Amerika Serikat. Selat Hormuz, yang terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia, merupakan jalur pelayaran yang sangat sempit namun krusial bagi perdagangan minyak global. Sekitar 20% hingga 30% minyak mentah dunia yang diperdagangkan melalui laut melewati selat ini. Oleh karena itu, setiap gangguan di Selat Hormuz memiliki dampak langsung dan signifikan terhadap pasokan serta harga minyak mentah dunia.

Kenaikan harga minyak global yang diprediksi terjadi akibat penutupan ini dapat memiliki efek domino terhadap perekonomian. Biaya logistik yang meningkat akan dirasakan oleh berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur hingga transportasi. Konsumen pun kemungkinan akan menghadapi kenaikan harga barang dan jasa akibat biaya energi yang lebih tinggi. Stabilitas ekonomi global yang baru mulai pulih pasca pandemi dan ketegangan geopolitik lainnya kini kembali dihadapkan pada tantangan baru.

Selain itu, keputusan Iran ini juga dapat mempersulit upaya diplomasi yang sedang berlangsung. Ketergantungan pasar global pada pasokan energi dari Timur Tengah menjadikan setiap tindakan represif atau penutupan jalur distribusi sebagai alat negosiasi yang kuat. Namun, di sisi lain, hal ini juga dapat memicu respons balasan dari negara-negara konsumen energi utama dan memperdalam ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat serta sekutunya. Militer AS, yang sebelumnya sempat melonggarkan kewaspadaan setelah kesepakatan awal, kini kembali harus meningkatkan kesiagaan guna mengantisipasi kemungkinan eskalasi lebih lanjut.

Perkembangan situasi di Selat Hormuz akan terus menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar energi dan pengamat geopolitik. Nasib kesepakatan sementara AS-Iran dan dampaknya terhadap stabilitas regional serta global kini sangat bergantung pada langkah-langkah selanjutnya yang akan diambil oleh kedua belah pihak. Ketidakpastian yang kembali muncul ini diperkirakan akan terus mewarnai pergerakan harga minyak mentah dalam beberapa waktu ke depan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All