Tim investigasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menemukan bukti mengejutkan mengenai pola serangan militer Israel di Jalur Gaza. Pasukan Israel disebut secara sadar menyasar bayi dan anak-anak sebagai target dalam operasi militer mereka.
Tindakan kekerasan ini dinilai sangat tidak proporsional dan tidak beralasan. Laporan dari Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB menyoroti skala kehancuran yang sangat besar.
Hakim S. Muralidhar, selaku Ketua Komisi, memaparkan bukti forensik dan medis yang sangat memprihatinkan. Ditemukan fakta bahwa bayi-bayi Palestina sengaja ditembak pada bagian kepala dan leher.
Tindakan kejam ini bertujuan untuk menimbulkan kerusakan maksimal pada para korban. Militer Israel diduga memanfaatkan teknologi drone quadcopter canggih untuk mempermudah eksekusi tersebut.
Kamera pencitraan termal pada drone mampu membedakan anak-anak dari orang dewasa dengan akurasi tinggi. Mereka menembakkan pelet kubus kecil yang bekerja layaknya amunisi klaster mematikan.
Proyektil tersebut dirancang khusus untuk menghancurkan organ dalam bayi secara instan. Muralidhar mengecam keras aksi tersebut yang sama sekali tidak memiliki dasar pertahanan militer.
Menembak bayi berusia 10 hari yang sedang menyusu dianggap sebagai pelanggaran kemanusiaan yang nyata. Pihak PBB dengan tegas menolak dalih penggunaan fasilitas publik sebagai perisai Hamas.
Israel sering beralasan bahwa rumah sakit dan sekolah dijadikan pangkalan serangan oleh Hamas. Namun, argumen tersebut tidak bisa melegalkan penghancuran total terhadap 97 persen sekolah di Gaza.
Konflik ini dipicu serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023 silam. Insiden tersebut menewaskan sekitar 1.200 orang dan memicu krisis sandera yang besar.
Operasi balasan Israel telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza secara masif. Data otoritas kesehatan setempat mencatat lebih dari 73.000 warga Palestina tewas.
Sebanyak 173.000 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terus berlangsung. Pola genosida terlihat jelas melalui upaya sistematis untuk mencegah kelahiran anak-anak baru.
Ibu hamil secara sengaja dijadikan sasaran dan dibiarkan mengalami gizi buruk kronis. Peralatan medis di rumah sakit dihancurkan saat pasien masih berada di dalamnya.
Pasokan obat-obatan darurat dan alat medis vital dilarang masuk oleh militer Israel. Kesehatan reproduksi menjadi target utama dalam operasi penghancuran yang terstruktur ini.
Panti asuhan pun tidak luput dari serangan brutal pasukan militer tersebut. Akibatnya, kini terdapat lebih dari 58.000 anak yatim piatu di Gaza.
Kondisi kemanusiaan di wilayah pendudukan Palestina tersebut kini berada dalam titik nadir. Dunia internasional terus mendesak penghentian serangan yang menyasar warga sipil tak berdosa.











