Monday, 17 August 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Permainan Tradisional Terancam Punah di Lomba 17-an

Oleh Muzairi M August 17, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus seringkali identik dengan berbagai macam lomba. Dahulu, beberapa permainan tradisional menjadi primadona dan paling ditunggu dalam ajang adu kebolehan ini. Namun, seiring berjalannya waktu, permainan-permainan yang kaya akan nilai budaya ini kian jarang terlihat, tergerus oleh zaman dan minimnya minat.

Fenomena ini menjadi perhatian serius, mengingat permainan tradisional bukan sekadar hiburan semata, melainkan warisan budaya yang perlu dilestarikan. Lomba-lomba yang dulunya meramaikan lapangan desa atau halaman rumah kini seolah tergantikan oleh tren baru yang lebih modern.

Salah satu permainan yang dulu sangat populer adalah balap karung. Lomba yang menguji keseimbangan dan kecepatan ini selalu berhasil menciptakan gelak tawa dan sorak sorai penonton. Peserta harus melompat-lompat dalam karung goni hingga mencapai garis finis. Keseruan balap karung seringkali diiringi dengan teriakan penyemangat dari keluarga dan teman.

Selain balap karung, panjat pinang juga merupakan salah satu ikon lomba 17-an yang tak bisa dilewatkan. Pohon pinang yang dilumuri oli menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta yang berusaha memanjatnya. Di puncak pohon, biasanya telah disiapkan berbagai macam hadiah menarik, mulai dari sembako hingga peralatan rumah tangga. Kerja sama tim menjadi kunci utama dalam permainan ini, di mana peserta saling membantu untuk mengangkat satu sama lain.

Permainan lain yang juga mulai jarang dilombakan adalah bakiak. Lomba yang menggunakan alas kaki panjang dari kayu ini membutuhkan kekompakan dan koordinasi yang baik antaranggota tim. Peserta harus melangkah serempak agar tidak terjatuh. Kelucuan seringkali terjadi ketika salah satu anggota tim kehilangan keseimbangan, mengakibatkan seluruh tim goyah.

Permainan congklak, meskipun lebih sering dimainkan di dalam rumah, terkadang juga dipertandingkan dalam perayaan 17-an sebagai ajang adu strategi dan ketelitian. Permainan menggunakan biji-bijian dan papan berlubang ini mengasah kemampuan berpikir logis para pemainnya. Namun, kini alat congklak pun semakin sulit ditemukan di pasaran.

Berkurangnya popularitas permainan tradisional ini disebabkan oleh berbagai faktor. Perkembangan teknologi dan hadirnya permainan digital yang lebih atraktif menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, minimnya sosialisasi dan regenerasi pemain juga turut berkontribusi pada hilangnya permainan-permainan ini dari perayaan 17-an. Penting bagi kita untuk kembali mengenalkan dan melestarikan permainan tradisional ini agar tidak sepenuhnya hilang ditelan zaman.

Bagikan: Facebook X WhatsApp