Thursday, 23 July 2026
BREAKING
KESEHATAN

Insomnia Kronis Tingkatkan Risiko Demensia dan Gangguan Kognitif

Oleh Rini Widiyarti July 23, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Sebuah studi terbaru mengindikasikan adanya kaitan signifikan antara insomnia kronis dengan peningkatan risiko pengembangan gangguan kognitif ringan (mild cognitive impairment/MCI) dan demensia. Temuan ini juga mengungkap bahwa individu yang mengalami penurunan kualitas tidur memiliki laju penurunan kognitif yang lebih cepat serta penanda kerusakan pada materi putih otak (white matter hyperintensities) yang lebih banyak.

Diego Carvalho, MD, MS, seorang neurofisiolog klinis dari Mayo Clinic, memaparkan hasil studi ini di hadapan peserta Alzheimer’s Association International Conference 2026. Menurutnya, insomnia kronis berpotensi menjadi faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi. “Penuaan seringkali disertai dengan berbagai perubahan dalam pola tidur yang dapat berkontribusi pada insomnia,” ujar Dr. Carvalho, merujuk pada perubahan-perubahan yang terjadi seiring bertambahnya usia.

Studi ini menyoroti bagaimana kualitas tidur yang buruk secara berkelanjutan dapat memengaruhi kesehatan otak dalam jangka panjang. Penurunan fungsi kognitif yang teramati pada partisipan dengan insomnia kronis menunjukkan adanya dampak negatif pada kemampuan berpikir, mengingat, dan memecahkan masalah.

Selain itu, temuan mengenai peningkatan jumlah white matter hyperintensities pada kelompok yang sama memberikan gambaran lebih lanjut mengenai kerusakan struktural pada otak. White matter hyperintensities sering dikaitkan dengan berbagai kondisi neurologis, termasuk stroke kecil dan peningkatan risiko demensia.

Lebih lanjut, Dr. Carvalho menekankan bahwa pemahaman mengenai hubungan antara insomnia kronis dan risiko demensia membuka peluang intervensi dini. Mengingat insomnia merupakan kondisi yang dapat diobati, strategi untuk meningkatkan kualitas tidur berpotensi menjadi bagian penting dari upaya pencegahan demensia di masa depan. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengkonfirmasi temuan ini dan mengembangkan panduan klinis yang lebih spesifik.

Bagikan: Facebook X WhatsApp