Indonesia Kokoh di Puncak Produksi Beras Asia Tenggara, Peringkat Empat Dunia Diprediksi FAO 2025

Yohanes

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan kabar baik terkait sektor pertanian Indonesia, merujuk pada data terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Indonesia dipastikan kembali menduduki posisi teratas sebagai produsen beras terbesar di kawasan Asia Tenggara. Lebih membanggakan lagi, proyeksi FAO untuk tahun 2025 menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia, hanya berselisih tipis di belakang raksasa agrikultur seperti India, China, dan Bangladesh.

Kepala Bapanas yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengonfirmasi pengakuan internasional ini. "FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan juga menjadi yang tertinggi keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh," ujar Amran dalam keterangan resminya di Jakarta pada Minggu (21/6/2026). Pengakuan ini menjadi bukti nyata atas kerja keras dan efektivitas program peningkatan produksi pangan nasional yang dijalankan pemerintah.

Lebih jauh, Amran menyoroti aspek pertumbuhan produksi yang positif. Dari keempat negara produsen beras terbesar di dunia, hanya China dan Indonesia yang diproyeksikan mengalami peningkatan produksi beras yang berkelanjutan. Jika dibandingkan secara spesifik antara perkiraan produksi beras periode 2025/2026 dan 2024/2025, Indonesia menunjukkan tren kenaikan paling signifikan di antara negara-negara produsen utama dunia. Kenaikan produksi beras Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta ton, jauh melampaui angka yang dicapai India (1,7 juta ton), Brasil (1,5 juta ton), dan Bangladesh (1,1 juta ton). Angka ini menunjukkan keunggulan kompetitif Indonesia dalam menjaga dan meningkatkan volume produksinya.

Pengakuan dari FAO tidak berhenti pada volume produksi semata. Organisasi pangan dunia tersebut juga melaporkan adanya peningkatan stok beras di Indonesia. Hal ini berkontribusi positif dalam menjaga kestabilan pasokan beras nasional, sekaligus turut andil dalam cadangan beras dunia. Dalam publikasi Food Outlook edisi Juni 2026, FAO mencatat bahwa peningkatan stok beras Indonesia menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keseimbangan pasokan global.

FAO memproyeksikan stok beras dunia pada akhir periode 2026/2027 akan mencapai rekor tertinggi kedua dalam satu dekade terakhir, yakni sebesar 213,8 juta ton. Angka ini mencerminkan upaya kolektif berbagai negara dalam mengamankan ketersediaan pangan pokok.

Menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan, Amran memastikan bahwa stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) secara nasional yang dikelola oleh Perum Bulog berada dalam posisi yang sangat aman. "Stok (CBP) kita per hari ini, bulan Juni, berada pada sekitar 5,2 juta ton sampai hari ini dan stok kita aman," tegasnya.

Lebih lanjut, Amran menyatakan bahwa Indonesia tidak akan lagi melakukan impor beras konsumsi. Kebijakan ini diambil seiring dengan melimpahnya produksi dalam negeri dan cadangan yang memadai. "Yang terpenting, sejak tahun 2025 tidak ada izin impor beras medium yang dikeluarkan sampai sekarang," imbuhnya. Hal ini menjadi penanda kemandirian pangan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan beras domestik.

Untuk membuktikan klaim kelimpahan stok CBP, Amran mengajak pihak-pihak yang masih ragu untuk secara langsung mengunjungi gudang-gudang Bulog di berbagai daerah. Langkah ini diambil untuk memberikan transparansi dan meyakinkan publik mengenai optimisme pemerintah terhadap ketersediaan beras untuk kebutuhan dalam negeri.

"Kapasitas gudang Bulog hanya 3 juta ton. Tapi stok kita 5,2 juta ton. Artinya, Bulog hari ini menyewa gudang dengan kapasitas 2,2 juta ton. Jadi, yang belum yakin, silakan ke gudang Bulog di seluruh Indonesia," ujar Amran, menunjukkan besarnya upaya Bulog dalam menyimpan cadangan beras.

Proyeksi closing stocks dari FAO dalam Food Outlook Juni 2026 juga memberikan gambaran positif bagi Indonesia. Stok beras Indonesia diprediksi akan mencapai 7,5 juta ton pada periode 2025/2026, dan bahkan meningkat menjadi 7,8 juta ton pada periode 2026/2027. Proyeksi surplus stok ini membuka lebar peluang Indonesia untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi eksportir beras di kancah internasional.

Dampak positif dari peningkatan produksi dan stabilitas pasokan beras ini juga terlihat pada sektor ekonomi. Amran menambahkan, beras tidak lagi menjadi penyumbang inflasi utama di Indonesia. "Dan satu lagi, beras bukan lagi penyumbang inflasi utama. Ini sudah dua tahun berturut-turut," tutupnya. Pengakuan ini menegaskan peran vital sektor pertanian dalam menjaga stabilitas ekonomi makro nasional.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All