Harga minyak dunia mengalami penurunan drastis, menyentuh titik terendah yang belum pernah terlihat sejak sebelum pecahnya konflik bersenjata di Iran. Penurunan signifikan ini dipicu oleh kesepakatan perundingan damai yang berlangsung di Swiss akhir pekan lalu, yang menghasilkan pencabutan sebagian sanksi Amerika Serikat terhadap ekspor minyak dari Iran. Seiring dengan kabar tersebut, aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz, jalur maritim krusial bagi pasokan energi global, menunjukkan peningkatan yang nyata, menghadirkan harapan akan stabilitas pasokan energi dan potensi penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) bagi konsumen.
Pertemuan penting antara perwakilan kedua belah pihak di Swiss merupakan langkah maju untuk mengakhiri konflik. Hasil dari dialog tersebut adalah keputusan AS untuk mencabut sebagian sanksi yang sebelumnya membatasi ekspor minyak mentah Iran. Kebijakan ini segera berdampak pada pasar energi global, mengingat Iran adalah salah satu produsen minyak utama di dunia.
Pasca-penandatanganan kesepakatan, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan melonjak secara signifikan. Perusahaan intelijen maritim Kpler mengungkapkan bahwa sebanyak 284 kapal telah melakukan transit sejak 18 Juni, sehari setelah kesepakatan tersebut diumumkan. Meskipun angka ini masih jauh di bawah rata-rata pra-konflik yang mencapai sekitar 138 penyeberangan setiap hari, peningkatan tersebut menandakan dimulainya kembali jalur perdagangan vital ini.
Kapal-kapal yang melewati jalur air strategis ini dalam beberapa hari terakhir mengangkut berbagai komoditas penting. Kpler melaporkan kepada BBC bahwa kargo yang dibawa meliputi minyak mentah, gas alam cair (LNG), pupuk, dan barang-barang lainnya. Diversifikasi kargo ini menunjukkan pemulihan aktivitas ekonomi yang lebih luas di wilayah tersebut.
Untuk mencegah kesalahpahaman dan memastikan kelancaran serta keamanan perjalanan kapal komersial melalui Selat Hormuz, AS dan Iran juga telah membentuk "jalur komunikasi". Mediasi oleh Qatar dan Pakistan, yang disampaikan dalam pernyataan bersama pada hari Senin, menegaskan komitmen kedua negara untuk menjaga stabilitas maritim.
Dimitris Maniatis, Kepala Eksekutif Marisks, sebuah perusahaan penasihat risiko maritim yang bekerja dengan kapal-kapal yang sebelumnya terjebak di wilayah tersebut, menyebutkan adanya "pergeseran luar biasa". Menurutnya, jauh lebih banyak kapal yang kini menggunakan selat tersebut dalam beberapa hari terakhir. Maniatis menambahkan bahwa sejumlah kapal terbatas dapat melintasi jalur utara dengan izin dari otoritas Iran.
Selain itu, Angkatan Laut AS juga telah memberikan panduan bagi kapal-kapal untuk melakukan perjalanan melalui jalur selatan. Jalur ini diklaim aman dari ranjau dan hambatan lain yang mungkin telah dipasang sejak perang dimulai. Meskipun demikian, jumlah kapal yang melintasi selat tersebut masih di bawah level sebelum perang, ketika lebih dari 100 kapal melintas setiap hari. Ratusan kapal masih terlihat menunggu di Teluk, mengindikasikan adanya potensi peningkatan lebih lanjut.
Di sisi lain, harga bahan bakar di pompa sempat melonjak tajam saat perang Iran pecah, dan kini fokus utama beralih pada seberapa cepat harga-harga tersebut akan turun. Simon Williams, Kepala Kebijakan di kelompok otomotif Inggris RAC, memprediksi bahwa harga rata-rata bensin kemungkinan akan turun di bawah 150p per liter dalam satu atau dua minggu ke depan. Ia juga menambahkan bahwa harga solar "seharusnya kembali di bawah 160p".
Menurut data RAC, harga bensin sempat mencapai puncaknya di angka 159,53p per liter pada 28 Mei, sementara solar telah turun dari harga tertinggi 191,54p pada 15 April. Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin reguler juga telah menurun menjadi sekitar $3,93 per galon, setelah mencapai $4 per galon pada bulan April, yang merupakan harga tertinggi sejak 2022. Meskipun demikian, harga tersebut masih jauh di atas level pra-perang.
Menyikapi situasi ini, Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu memerintahkan penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan energi besar. Trump menuduh Shell, ExxonMobil, dan perusahaan lain telah "mencekik" pengemudi dengan tidak menurunkan harga bahan bakar, meskipun biaya minyak mentah telah jatuh. "Harga minyak sudah turun begitu banyak dan kami tidak melihat dampaknya di pompa bensin sebagaimana mestinya," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Namun, tuduhan ini dibantah oleh American Petroleum Institute, yang mewakili industri minyak dan gas di AS. Mereka menyatakan bahwa harga bahan bakar "tidak bergerak sejalan dengan harga minyak mentah". Perusahaan energi di Inggris juga menghadapi tuduhan serupa terkait kenaikan harga bensin yang tidak adil sejak perang Iran.
Meskipun demikian, pengawas kompetisi di Inggris bulan lalu menyatakan tidak ada bukti luas mengenai praktik tersebut. Mereka menambahkan bahwa margin keuntungan rata-rata "secara umum tidak berubah" antara Februari dan Maret. Hal ini menunjukkan kompleksitas penentuan harga eceran BBM yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, tidak hanya harga minyak mentah, melainkan juga biaya distribusi, pajak, dan margin keuntungan.
Dengan harga minyak mentah global yang menunjukkan tren penurunan signifikan dan Selat Hormuz yang kembali bergeliat, pasar energi dunia berada di persimpangan jalan. Meskipun ada harapan untuk penurunan harga BBM bagi konsumen, tekanan dari pemerintah terhadap perusahaan energi dan respons industri akan menentukan seberapa cepat dan seberapa besar manfaat dari penurunan harga minyak ini dapat dirasakan secara luas. Perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan stabilitas rute maritim vital akan terus menjadi faktor kunci yang memengaruhi dinamika pasar energi global di masa mendatang.











