Friday, 10 July 2026
BREAKING
DUNIA

Gelar Kedokteran dan Ekonomi Jamin Pendapatan Fantastis Seumur Hidup, Seni dan Filsafat Justru Merugi?

Oleh Yohanes June 25, 2026 2 weeks lalu 0 komentar

Sebuah studi terbaru yang dirilis oleh Institute for Fiscal Studies (IFS) di Inggris mengungkap fakta menarik mengenai dampak gelar universitas terhadap pendapatan seumur hidup. Meskipun secara umum pendidikan tinggi dianggap sebagai investasi yang menguntungkan, riset ini menunjukkan variasi signifikan berdasarkan jurusan yang diambil, bahkan beberapa jurusan disebut-sebut tidak memberikan keuntungan finansial yang berarti dibandingkan mereka yang tidak bergelar.

Riset tersebut menyoroti bahwa lulusan kedokteran, misalnya, memiliki potensi untuk menghasilkan pendapatan hingga £400.000 (sekitar Rp8,1 miliar dengan kurs Rp20.300) lebih banyak sepanjang hidup mereka dibandingkan dengan individu tanpa gelar. Jurusan ekonomi juga menjanjikan keuntungan finansial yang substansial bagi para lulusannya. Namun, temuan mengejutkan muncul untuk beberapa bidang studi lain, termasuk seni kreatif, filsafat, dan bahasa, yang dilaporkan menawarkan pengembalian finansial yang minim, bahkan negatif, jika dibandingkan dengan pendapatan seseorang dengan latar belakang serupa yang tidak menempuh pendidikan tinggi.

Temuan ini memicu perdebatan sengit tentang nilai investasi pendidikan tinggi dan relevansinya dengan kebutuhan pasar kerja modern. Departemen Pendidikan (DfE) Inggris merespons hasil riset ini dengan mengumumkan rencana untuk membatasi jumlah mahasiswa pada program studi yang dinilai memiliki "pengembalian terendah". Selain itu, DfE juga akan mengadakan konsultasi mengenai pengenalan persyaratan kemampuan bahasa Inggris minimum bagi calon mahasiswa, sebuah langkah yang mengindikasikan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan tinggi di negara tersebut.

Secara rata-rata, data menunjukkan bahwa seorang lulusan universitas dapat memperoleh sekitar £100.000 lebih banyak sepanjang hidup mereka dibandingkan rekan-rekan non-lulusan, bahkan setelah memperhitungkan pajak dan pembayaran pinjaman mahasiswa. Angka ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi masih menjadi jalur yang menjanjikan untuk peningkatan pendapatan secara umum, namun dengan catatan penting mengenai pilihan jurusan.

Menteri Keterampilan Inggris, Jacqui Smith, menekankan pentingnya calon mahasiswa untuk "memilih dengan hati-hati". Ia mengingatkan agar para calon mahasiswa tidak "masuk ke perguruan tinggi secara otomatis" hanya karena kebiasaan atau tekanan sosial. "Pergi ke universitas dan mendapatkan gelar adalah salah satu hal paling transformatif yang dapat dilakukan seorang pemuda. Namun, itu bukanlah jaminan universal kesuksesan, dan tidak semua gelar setara," ujar Smith. Ia juga menyoroti adanya terlalu banyak program studi waralaba dan berkualitas rendah yang "tidak menawarkan kesepakatan yang baik kepada kaum muda, menjual mimpi kemudian meninggalkan mahasiswa dalam kesulitan." Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatiran pemerintah terhadap standar kualitas di beberapa institusi pendidikan tinggi.

Menanggapi laporan IFS, Nick Harrison, kepala eksekutif Sutton Trust, sebuah badan amal yang berfokus pada mobilitas sosial, mengakui bahwa meskipun universitas bukanlah jaminan "kesuksesan finansial", tetap menjadi "jalur paling andal menuju mobilitas ke atas." Harrison menambahkan bahwa sebagian besar lulusan masih merasakan manfaat finansial besar sepanjang hidup mereka, dan bagi kaum muda dari latar belakang berpenghasilan rendah, keuntungan tersebut seringkali paling besar. Ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran krusial dalam mengurangi kesenjangan sosial ekonomi.

Namun, Harrison juga mengangkat "pertanyaan tidak nyaman" mengenai pilihan karier yang tersedia bagi kaum muda. "Jika kita menyuruh kaum muda untuk tidak pergi ke universitas, apa sebenarnya yang kita suruh mereka lakukan sebagai gantinya? Tidak ada kekurangan kritik terhadap apa yang disebut gelar bernilai rendah, tetapi ada kekurangan kronis alternatif berkualitas tinggi," katanya. Harrison menyoroti bahwa jalur magang dan teknis dapat menawarkan prospek kemajuan dan kesuksesan yang hebat, namun jumlahnya masih belum cukup untuk menjadi alternatif yang layak bagi banyak anak muda. Kekurangan ini menciptakan dilema bagi para pembuat kebijakan dan juga calon mahasiswa yang mencari jalur pendidikan dan karier yang menjanjikan.

Di sisi lain, Vivienne Stern, kepala eksekutif Universities UK, sebuah organisasi yang mewakili universitas-universitas di Inggris, menyoroti pentingnya memahami bahwa beberapa pilihan gelar, seperti seni, "tidak dimotivasi oleh uang." Stern menekankan bahwa mata pelajaran ini juga berkontribusi pada industri kreatif, yang merupakan penggerak ekonomi yang besar bagi Inggris. Dalam era kecerdasan buatan (AI) yang semakin maju, Stern berpendapat bahwa "kita akan semakin menghargai pemahaman tentang bagaimana manusia berpikir dan bertindak, bukan kurang, di masa depan." Pernyataan ini membuka perspektif bahwa nilai sebuah gelar tidak hanya diukur dari potensi pendapatan finansial semata, melainkan juga kontribusinya terhadap budaya, inovasi, dan pemahaman kemanusiaan.

Perdebatan mengenai nilai ekonomi dari berbagai jurusan kuliah ini mencerminkan tren global di mana pemerintah dan masyarakat semakin menuntut akuntabilitas dari institusi pendidikan tinggi. Di tengah biaya pendidikan yang terus meningkat dan beban pinjaman mahasiswa, keputusan untuk memilih jurusan menjadi semakin krusial. Mahasiswa tidak hanya mempertimbangkan minat pribadi, tetapi juga prospek karier jangka panjang dan potensi pengembalian investasi pendidikan mereka.

Secara keseluruhan, riset IFS memberikan gambaran yang lebih nuansa tentang "nilai" gelar universitas. Ini bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi tentang pilihan strategis yang dibuat di awal perjalanan pendidikan. Bagi para calon mahasiswa dan orang tua di Inggris dan mungkin di seluruh dunia, temuan ini menjadi pengingat penting untuk melakukan riset mendalam, mempertimbangkan tidak hanya minat tetapi juga prospek pasar kerja, dan mencari keseimbangan antara gairah pribadi dan realitas ekonomi. Pemerintah dan universitas kini dihadapkan pada tugas untuk memastikan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya relevan tetapi juga memberikan nilai nyata bagi setiap individu dan perekonomian secara keseluruhan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait