Mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Fuad Bawazier, menyoroti kondisi ekonomi Indonesia saat ini yang dinilainya terancam oleh gempuran impor, sebuah ironi jika dibandingkan dengan sejarah panjang penjajahan Belanda yang pernah dialami bangsa ini. Ia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kekuatan ekonomi nasional kini justru terkikis oleh produk-produk asing, sebuah situasi yang kontras dengan upaya pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga 8%.
Fuad Bawazier, dalam sebuah pandangannya, membandingkan masa lalu Indonesia yang pernah berada di bawah cengkeraman kolonial Belanda dengan kondisi saat ini. Ia merasa miris melihat bagaimana Indonesia yang dulunya dijajah kini justru menghadapi tantangan berat dari serbuan barang impor yang membanjiri pasar domestik. Menurutnya, ancaman ini lebih mengkhawatirkan daripada sekadar persaingan bisnis biasa, karena berpotensi menggerus sendi-sendi perekonomian nasional.
Lebih lanjut, mantan orang nomor satu di Kementerian Keuangan ini juga membeberkan jurus pamungkas yang tengah diimplementasikan oleh pemerintah untuk memperkuat cadangan devisa negara. Penguatan cadangan devisa merupakan salah satu kunci penting dalam menjaga stabilitas ekonomi makro dan daya tahan terhadap gejolak eksternal. Namun, Fuad Bawazier tampaknya melihat bahwa upaya penguatan devisa ini perlu dibarengi dengan strategi yang lebih fundamental untuk mengatasi akar masalah serbuan impor.
Ia menggarisbawahi pentingnya langkah-langkah strategis yang mampu menciptakan daya saing produk dalam negeri. Tanpa adanya produk-produk lokal yang berkualitas dan mampu bersaing, ancaman impor akan terus membayangi. Fuad Bawazier menyarankan agar pemerintah fokus pada peningkatan kapasitas produksi industri dalam negeri, inovasi teknologi, serta perlindungan yang proporsional bagi UMKM agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan global.
Kritik yang dilontarkan oleh Fuad Bawazier ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan di Indonesia. Menghadapi tantangan ekonomi yang kian kompleks, diperlukan kesadaran kolektif untuk tidak hanya berupaya mengejar pertumbuhan angka, tetapi juga memastikan bahwa pertumbuhan tersebut didasarkan pada kekuatan ekonomi riil yang kokoh dan mandiri, bebas dari ketergantungan berlebihan pada produk impor.
