Taiwan menggelar latihan militer tahunan berskala besar, Han Kuang, yang melibatkan simulasi serangan udara dan pengerahan tank di jalan-jalan ibu kota, Taipei. Latihan ini dirancang untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman agresi dari Tiongkok daratan yang semakin meningkat.
Selama latihan yang berlangsung pada Selasa (23/7/2024), sirene serangan udara meraung di seluruh negeri, mengingatkan warga akan potensi bahaya. Masyarakat diminta untuk berlindung di tempat yang aman, seperti yang biasa dilakukan saat latihan serupa di negara lain. Selain itu, tank-tank tempur terlihat melintasi jalan-jalan utama di Taipei, sebuah pemandangan yang jarang terjadi dan menunjukkan keseriusan latihan ini dalam mensimulasikan skenario perang nyata.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Taiwan, Shih Shun-wen, menyatakan bahwa latihan Han Kuang kali ini mencakup berbagai skenario, termasuk simulasi gangguan terhadap infrastruktur internet. Hal ini penting mengingat Tiongkok berpotensi melancarkan serangan siber sebagai bagian dari strategi perang hibrida untuk melumpuhkan pertahanan Taiwan sebelum serangan fisik dilakukan.
“Latihan ini bertujuan untuk menguji kesiapan tempur pasukan kami dalam menghadapi berbagai ancaman, termasuk serangan konvensional dan non-konvensional,” ujar Shih Shun-wen dalam sebuah pernyataan. Ia menambahkan bahwa simulasi gangguan internet merupakan bagian penting untuk memastikan ketahanan komunikasi dan operasional militer di tengah serangan musuh.
Latihan Han Kuang tahun ini juga melibatkan elemen-elemen sipil, seperti para pekerja dan pelajar yang berpartisipasi dalam simulasi perlindungan diri. Hal ini menegaskan pendekatan komprehensif Taiwan dalam mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik. Latihan serupa sebelumnya telah menunjukkan bagaimana pasukan Taiwan dan warga sipil berkoordinasi dalam menghadapi serangan.
Presiden Taiwan, Lai Ching-te, turut memantau jalannya latihan dan menegaskan komitmen negaranya untuk mempertahankan kedaulatan dan demokrasi. Ia menekankan pentingnya kesiapan militer yang kuat sebagai penangkal terhadap segala bentuk agresi. “Kami tidak akan pernah menyerah pada tekanan dari pihak manapun,” tegas Lai Ching-te, menggarisbawahi tekad Taiwan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Peningkatan frekuensi dan skala latihan militer Taiwan sejalan dengan meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan. Tiongkok secara konsisten menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk menyatukannya kembali. Aktivitas militer Tiongkok di sekitar Taiwan, termasuk patroli udara dan laut, telah menjadi perhatian internasional.
