Friday, 10 July 2026
BREAKING
DUNIA

Filipina Blokir Aplikasi Game Gorebox Pasca Penembakan Mengerikan di Sekolah Tacloban

Oleh Yohanes June 26, 2026 2 weeks lalu 0 komentar

Pemerintah Filipina mengambil langkah drastis dengan memblokir sementara aplikasi permainan "Gorebox" setelah penyelidikan awal mengindikasikan bahwa salah satu tersangka remaja dalam insiden penembakan sekolah yang langka telah memainkan gim tersebut. Keputusan ini diambil menyusul tragedi berdarah di Tacloban, Filipina bagian tenggara, yang menewaskan tiga siswa dan melukai 20 lainnya pada hari Senin.

Insiden mengerikan itu terjadi di dalam sebuah ruang kelas di San Jose National High School. Dua tersangka remaja, masing-masing berusia 15 dan 14 tahun, diduga melepaskan tembakan menggunakan pistol ke arah siswa lainnya. Peristiwa ini mengguncang publik Filipina, mengingat kasus penembakan massal di lingkungan sekolah sangat jarang terjadi di negara tersebut, meskipun kejahatan terkait senjata api memang tidak asing.

Pihak kepolisian Filipina mengungkapkan bahwa tersangka berusia 14 tahun merupakan pemain aktif Gorebox, sebuah gim yang deskripsinya di Google Play Store memungkinkan pemain untuk "menghancurkan apa pun yang diinginkan" dan "terlibat dalam pertempuran brutal dengan persenjataan lengkap dan bahan peledak." Gim ini dikenal sebagai penembak orang pertama (first-person shooter) yang bisa dimainkan secara solo maupun multipemain daring, dan telah mendapatkan rating R18 dari International Age Rating Coalition karena kontennya yang sangat kejam, eksplisit, dan tidak terbatas.

Aboy Paraiso, Wakil Sekretaris di Cybercrime Investigation and Co-ordinating Centre (CICC) Filipina, menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat mengabaikan potensi pengaruh daring yang mungkin berkontribusi pada insiden tragis ini. Pemblokiran sementara aplikasi Gorebox akan memberi waktu bagi pihak berwenang untuk melakukan penilaian menyeluruh mengenai apakah platform tersebut memainkan peran dalam tindakan para tersangka. Kantor berita BBC News telah mencoba menghubungi F2Games, pengembang Gorebox yang berbasis di Jerman, untuk meminta komentar.

Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa studi ilmiah sejauh ini belum menemukan hubungan langsung antara video gim dan perilaku kekerasan. Namun, insiden di Tacloban ini kembali memicu perdebatan sengit tentang dampak konten daring, khususnya gim kekerasan, terhadap perkembangan psikologis remaja dan anak-anak.

Penyelidikan awal menunjukkan bahwa penembakan itu tampaknya telah direncanakan. Juru bicara Kepolisian Nasional Filipina, Allan Rae Co, mengungkapkan bahwa kedua tersangka sempat mengunci diri di kamar mandi sebelum melancarkan aksinya. Lebih lanjut, Co menyatakan bahwa tersangka berusia 14 tahun "sangat terpengaruh" oleh konten daring dan diketahui sering mengunggah konten kekerasan di media sosialnya. Motif sementara yang diungkapkan para tersangka adalah mereka merasa menjadi korban perundungan di sekolah.

Terkait kepemilikan senjata api, polisi menemukan bahwa pistol 9mm yang diduga digunakan oleh tersangka 14 tahun adalah milik bibinya, seorang polwan yang kini telah diskors dari tugasnya. Sementara itu, senjata .38 yang dipegang tersangka 15 tahun terdaftar atas nama agen keamanan kakeknya. Ironisnya, di bawah hukum Filipina, tersangka berusia 14 tahun terlalu muda untuk didakwa secara pidana, berbeda dengan tersangka 15 tahun yang telah dikenai dakwaan pembunuhan.

Insiden penembakan sekolah yang melibatkan anak di bawah umur ini menjadi sorotan tajam di Filipina, mengingat kasus serupa sangat jarang terjadi. Sebelumnya, kejahatan terkait senjata api memang sering menghiasi berita sore, tetapi jarang melibatkan pelaku semuda ini. Anggota Kongres dari partai Akbayan, Chel Diokno, menyerukan hukuman yang lebih berat bagi mereka yang membiarkan anak di bawah umur memiliki akses ke senjata api.

Menanggapi insiden Tacloban, para senator Filipina berencana untuk melanjutkan investigasi sebelumnya mengenai dampak kekerasan di platform daring terhadap anak-anak. Senator Risa Hontiveros menyatakan keprihatinannya bahwa platform internet telah menjadi "sarang untuk pencucian otak dan radikalisasi kaum muda." Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menunggu korban berikutnya jika internet digunakan untuk memangsa anak-anak.

Di sisi lain, Walikota Quezon City, Joy Belmonte, menyerukan peninjauan ulang protokol keamanan sekolah secara menyeluruh. Ia menekankan perlunya pelatihan dan simulasi darurat agar anak-anak mengetahui tindakan yang harus diambil saat menghadapi situasi seperti penembakan. Menteri Pendidikan Sonny Angara juga menyatakan keprihatinan mendalam pemerintah, seraya menambahkan, "Kami tidak ingin situasi yang terlihat di Amerika Serikat, di mana ada kekhawatiran tentang insiden peniruan."

Insiden penembakan massal terburuk dalam sejarah Filipina baru-baru ini terjadi pada November 2009, ketika seorang wali kota di provinsi Maguindanao, selatan Filipina, menembak mati 58 orang, yang sebagian besar adalah jurnalis, yang sedang bepergian dengan konvoi saingan politiknya. Tragedi di Tacloban ini, meskipun dalam skala lebih kecil, kembali mengingatkan Filipina akan pentingnya pengawasan ketat terhadap akses senjata api dan dampak konten daring terhadap generasi muda.

Saat ini, masyarakat Filipina menanti hasil penyelidikan lebih lanjut dan langkah konkret dari pemerintah untuk mencegah terulangnya tragedi serupa. Fokus kini beralih pada upaya menyeimbangkan kebebasan berinternet dengan perlindungan anak-anak dari konten berbahaya, serta penguatan keamanan di lingkungan pendidikan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait