Jakarta – Status triliuner dunia yang sempat disandang oleh CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, harus berakhir hanya dalam waktu sekitar 12 hari. Kekayaan bersihnya kembali merosot di bawah angka US$1 triliun, setelah mengalami guncangan signifikan dari penurunan valuasi SpaceX serta perubahan perhitungan atas kepemilikan sahamnya di Tesla. Penurunan ini menjadi sorotan tajam di tengah volatilitas pasar global dan dinamika bisnis raksasa teknologi.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Forbes, kekayaan Musk kini diperkirakan mencapai sekitar US$962 miliar. Angka fantastis ini setara dengan sekitar Rp17.244,66 triliun, jika mengacu pada kurs Rp17.925 per dolar AS. Penurunan ini menandai kembalinya kekayaan Musk ke level di bawah US$1 triliun, setelah sebelumnya sempat mencetak sejarah sebagai individu pertama yang mencapai angka tersebut.
Elon Musk pertama kali meraih predikat triliuner pada 12 Juni 2026. Pencapaian monumental ini terjadi menyusul langkah SpaceX yang resmi melantai di bursa saham. Kala itu, kekayaan Musk diperkirakan melonjak hingga US$1,1 triliun, atau sekitar Rp19.718,71 triliun. Momen bersejarah tersebut mengukuhkan posisinya sebagai tokoh paling berpengaruh dalam kancah ekonomi global.
Euforia atas pencapaian tersebut bahkan sempat berlanjut. Hanya berselang empat hari, tepatnya pada 16 Juni, harga saham SpaceX kembali menunjukkan lonjakan impresif hingga 40 persen. Kenaikan drastis ini mendorong total kekayaan Musk mencapai rekor tertinggi baru, menembus angka sekitar US$1,45 triliun. Namun, puncak kejayaan itu ternyata tidak bertahan lama, menghadapi tantangan pasar yang tak terduga.
Kondisi pasar yang bergejolak membuat harga saham SpaceX mengalami penurunan tajam. Hingga Selasa, 23 Juni, valuasi perusahaan eksplorasi antariksa tersebut ambles sekitar 31 persen dari titik puncaknya. Anjloknya harga saham SpaceX inilah yang secara signifikan memangkas nilai kekayaan bersih Elon Musk, menjadi faktor utama hilangnya status triliuner tersebut.
Selain pelemahan saham SpaceX, Forbes juga melakukan penyesuaian besar dalam perhitungan kekayaan Musk. Mereka menghapus sekitar US$116 miliar nilai saham Tesla milik Musk dari total asetnya. Langkah ini diambil karena saham tersebut kini berstatus restricted stock, atau saham dengan pembatasan tertentu yang membuatnya tidak langsung likuid atau dapat diperdagangkan secara bebas di pasar.
Perubahan status saham Tesla ini bukan tanpa latar belakang. Ini merupakan hasil dari serangkaian peristiwa hukum dan perjanjian yang kompleks. Musk sebelumnya telah menggunakan seluruh opsi saham yang diterimanya melalui paket kompensasi CEO Tesla yang disepakati pada tahun 2018. Paket kompensasi tersebut memang sempat menjadi subjek kontroversi dan perselisihan hukum.
Pada tahun 2024, paket kompensasi tersebut sempat dibatalkan oleh pengadilan Delaware, menimbulkan ketidakpastian mengenai kepemilikan saham Musk. Namun, keputusan tersebut kemudian dipulihkan kembali oleh Mahkamah Agung Delaware pada tahun 2025, mengembalikan hak Musk atas opsi sahamnya. Proses hukum yang panjang ini mencerminkan rumitnya struktur kompensasi eksekutif di perusahaan besar.
Setelah serangkaian putusan hukum tersebut, Tesla dan Elon Musk akhirnya menandatangani perjanjian baru pada April 2026. Perjanjian ini secara substansial mengubah opsi saham tersebut menjadi saham terbatas. Berdasarkan kesepakatan baru ini, Musk baru dapat memperoleh penuh kepemilikan saham tersebut jika ia tetap menjabat sebagai CEO Tesla atau eksekutif yang bertanggung jawab atas pengembangan produk atau operasional perusahaan hingga Januari 2028. Ketentuan ini secara efektif mengikat saham tersebut pada kinerjanya dan posisinya di perusahaan.
Terlepas dari penurunan ini, Forbes masih menilai bahwa Elon Musk memiliki peluang kuat untuk kembali menyandang status triliuner di masa mendatang. Kontributor terbesar bagi kekayaannya saat ini masih berasal dari kepemilikan sekitar 38 persen saham di SpaceX. Kepemilikan ini sendiri masih bernilai sekitar US$796 miliar, atau setara dengan Rp14.267,10 triliun, menunjukkan potensi besar yang dimiliki perusahaan tersebut.
Ini berarti, jika valuasi SpaceX kembali menunjukkan tren penguatan dan mampu rebound dari penurunan yang terjadi, kekayaan bersih Elon Musk sangat berpotensi untuk kembali menembus ambang batas US$1 triliun. Pergerakan pasar dan inovasi yang dilakukan SpaceX akan menjadi kunci penentu nasib kekayaannya di masa depan. Investor dan analis pasar akan terus memantau dengan cermat perkembangan kedua perusahaan raksasa yang dipimpinnya.
Meskipun predikat triliuner telah hilang, Elon Musk tetap mempertahankan posisinya sebagai orang terkaya di dunia. Nilai kekayaannya yang saat ini mencapai US$962 miliar masih jauh melampaui individu terkaya kedua. Sebagai perbandingan, kekayaan salah satu pendiri Google, Larry Page, yang menempati posisi kedua, diperkirakan "hanya" sekitar US$284 miliar. Ini menunjukkan dominasi luar biasa Musk di puncak daftar orang terkaya global, bahkan setelah mengalami koreksi signifikan.
