Dua prajurit Amerika Serikat dilaporkan tewas dalam serangan drone di Yordania, demikian pengumuman resmi dari Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) pada Minggu (28/1/2024). Insiden mematikan ini terjadi pada hari sebelumnya, Sabtu (27/1/2024), di dekat perbatasan Suriah.
Identitas kedua prajurit yang gugur tersebut telah diumumkan oleh Pentagon. Mereka adalah Sersan William Rivers, 46 tahun, dari Lawton, Oklahoma, dan Sersan Kennedy Sanders, 24 tahun, dari Tampa, Florida. Keduanya merupakan bagian dari unit militer yang ditempatkan di Yordania sebagai bagian dari misi untuk mendukung stabilitas regional dan memerangi kelompok teroris.
Serangan drone yang dilancarkan oleh kelompok milisi yang didukung Iran ini juga mengakibatkan 25 personel militer AS lainnya terluka. Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan di Timur Tengah yang semakin memanas, terutama setelah eskalasi konflik di Gaza.
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, dalam sebuah pernyataan yang dirilis Pentagon, menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya kedua prajurit tersebut. “Kami berduka atas hilangnya tiga personel militer Amerika yang gagah berani yang tewas dalam serangan drone yang mengerikan di Yordania pada hari Sabtu,” ujar Presiden Biden. Ia juga menegaskan bahwa AS akan meminta pertanggungjawaban atas serangan tersebut.
Serangan ini merupakan pukulan telak bagi pasukan AS yang beroperasi di kawasan tersebut. Ketegangan di Timur Tengah telah meningkat tajam sejak serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, yang kemudian memicu respons militer Israel di Gaza. Kelompok-kelompok militan di kawasan tersebut, yang sebagian besar didukung oleh Iran, telah melancarkan berbagai serangan terhadap sasaran-sasaran AS sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina dan penolakan terhadap kebijakan AS di Timur Tengah.
Meskipun Pentagon secara eksplisit menyebutkan bahwa serangan ini dilakukan oleh milisi yang didukung Iran, mereka belum secara resmi menunjuk Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab langsung atas serangan tersebut. Namun, insiden ini diperkirakan akan semakin memperkeruh hubungan antara AS dan Iran, serta meningkatkan risiko eskalasi konflik di seluruh wilayah.
Pemerintah AS telah berulang kali menyatakan komitmennya untuk melindungi pasukannya di Timur Tengah dan akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah serangan serupa di masa depan. Detail mengenai kemungkinan respons militer AS terhadap serangan ini masih belum diungkapkan secara rinci.
