Dua orang pekerja tewas dalam insiden ledakan yang terjadi di Aeon Mall, Jepang, setelah mereka diperintahkan untuk kembali masuk ke dalam gedung yang terdampak gempa. Peristiwa tragis ini terjadi pada hari yang sama saat gempa melanda, menimbulkan pertanyaan mengenai keselamatan kerja di tengah bencana.
Korban, yang merupakan dua perempuan, dilaporkan tewas akibat ledakan yang terjadi saat mereka kembali memasuki Aeon Mall. Pihak pengusaha telah mengeluarkan permintaan maaf terkait insiden tersebut, mengakui bahwa kedua pekerja tersebut dikirim kembali ke mal untuk mengamankan uang tunai.
Menurut laporan, insiden ini terjadi di Aeon Mall yang berlokasi di Kōbe, Jepang. Gempa bumi yang mengguncang wilayah tersebut pada 17 Januari 1995, dengan magnitudo 7,3, telah menyebabkan kerusakan luas, termasuk di pusat perbelanjaan tersebut.
Pihak manajemen Aeon Mall, melalui juru bicaranya, menyatakan penyesalan mendalam atas kejadian ini. “Kami meminta maaf sebesar-besarnya atas insiden ini dan hilangnya nyawa kedua karyawan kami,” ujar juru bicara tersebut, seraya menambahkan bahwa perintah untuk kembali ke mal diberikan sebelum situasi sepenuhnya dinilai aman.
Lebih lanjut, terungkap bahwa perintah untuk kembali ke dalam gedung dilakukan dengan tujuan untuk menyelamatkan uang tunai yang ada di dalam mal. Keputusan ini diambil oleh atasan langsung dari kedua korban, yang diduga tidak sepenuhnya mempertimbangkan risiko yang ada pasca-gempa.
Seorang saksi mata yang enggan disebutkan namanya mengatakan, “Saya melihat mereka masuk ke dalam mal setelah gempa. Beberapa saat kemudian terdengar suara ledakan yang cukup keras.” Ia menambahkan bahwa kepanikan melanda area sekitar mal setelah insiden tersebut.
Pihak berwenang setempat sedang melakukan investigasi mendalam terkait penyebab pasti ledakan dan kelalaian yang mungkin terjadi. Fokus utama penyelidikan adalah untuk memastikan apakah ada pelanggaran prosedur keselamatan kerja yang dilakukan oleh pihak pengusaha.
Gempa bumi Hanshin-Awaji, yang juga dikenal sebagai Gempa Kobe, tercatat sebagai salah satu bencana alam terparah dalam sejarah Jepang modern. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan fisik yang masif, tetapi juga memunculkan diskusi penting mengenai penanganan bencana dan tanggung jawab perusahaan terhadap karyawannya dalam situasi darurat.
