Jumlah peresepan buprenorphine di apotek dilaporkan mengalami penurunan dalam empat tahun terakhir, setelah sebelumnya menunjukkan peningkatan signifikan antara tahun 2019 hingga 2021, terutama di wilayah pedesaan. Data terbaru ini diungkapkan melalui laporan Morbidity and Mortality Weekly Report.
Menurut Gery P. Guy Jr., PhD, seorang ilmuwan kesehatan di CDC, dan timnya, tren penurunan ini terjadi setelah periode lonjakan yang diamati. Meskipun demikian, buprenorphine tetap dianggap sebagai pengobatan yang kurang dimanfaatkan. “Buprenorphine tetap kurang dimanfaatkan,” tulis mereka dalam laporan tersebut.
Kondisi ini terjadi di tengah angka kematian akibat opioid yang masih tinggi. Pada tahun 2024, tercatat 54.045 kematian yang melibatkan opioid. Selain itu, diperkirakan terdapat 4,8 juta orang yang mengalami gangguan penggunaan opioid (Opioid Use Disorder/OUD).
Para peneliti menduga bahwa variasi geografis dalam akses terhadap pengobatan ini dapat berkontribusi terhadap rendahnya pemanfaatan buprenorphine. Perbedaan dalam ketersediaan dokter yang meresepkan dan apotek, serta faktor sistem kesehatan lainnya, diduga menjadi penyebabnya.
