Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Selasa, 4 Agustus, menyusul pernyataan positif dari Qatar mengenai kemajuan dalam proses mediasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pernyataan tersebut mengindikasikan adanya perkembangan yang memperkuat harapan akan perdamaian antara kedua negara.
Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, mengungkapkan optimismenya pada hari yang sama, menyebutkan bahwa negosiasi antara Washington dan Teheran sedang menunjukkan kemajuan. “Kita melihat perkembangan positif dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran,” ujar Sheikh Mohammed dalam sebuah konferensi pers, seperti dikutip dari Reuters.
Pernyataan ini sontak memberikan sentimen negatif terhadap pasar minyak global. Kekhawatiran akan potensi kembalinya pasokan minyak Iran ke pasar internasional, yang sebelumnya dibatasi oleh sanksi AS, menjadi faktor utama anjloknya harga. Data dari Refinitiv menunjukkan harga minyak mentah Brent, patokan internasional, jatuh lebih dari 2% pada hari itu, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan serupa.
Penurunan harga minyak ini mencerminkan respons pasar terhadap prospek meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hubungan AS-Iran yang memanas dalam beberapa tahun terakhir kerap kali menimbulkan ketidakpastian pasokan energi global, yang berujung pada volatilitas harga minyak. Oleh karena itu, setiap sinyal positif menuju de-eskalasi menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar komoditas energi.
Meskipun demikian, para analis mengingatkan bahwa kemajuan dalam negosiasi ini masih dalam tahap awal dan belum ada kesepakatan konkret yang dicapai. Perjalanan menuju normalisasi hubungan AS-Iran diprediksi akan tetap panjang dan kompleks, dengan berbagai tantangan yang masih harus dihadapi. Namun, pernyataan dari Qatar ini setidaknya memberikan secercah harapan yang cukup untuk memicu koreksi harga minyak dalam jangka pendek.
