Harga bahan bakar minyak (BBM) diprediksi akan terus menghantui konsumen dengan level yang tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Fenomena ini terjadi meskipun ada potensi penurunan harga minyak mentah di pasar global.
Penyebab utama tingginya harga BBM bukan semata-mata dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah. Kendala utama justru terletak pada kapasitas kilang minyak dunia yang kian terbatas. Keterbatasan ini membuat pasokan BBM global menjadi langka, sehingga mendorong kenaikan harga jual di tingkat konsumen.
Analis komoditas dari S&P Global Commodity Insights, Paul Sheldon, menyoroti kondisi tersebut. “Kapasitas kilang minyak global saat ini sangat ketat, dan ini akan terus menekan margin kilang hingga tahun depan,” ujarnya. Sheldon memperkirakan, margin kilang minyak akan tetap tinggi hingga kuartal pertama tahun 2024. Margin kilang yang tinggi ini, lanjutnya, merupakan indikasi kuat bahwa harga BBM akan tetap mahal.
Kondisi ini diperparah dengan rendahnya stok minyak sulingan di berbagai negara. Data dari S&P Global Commodity Insights menunjukkan bahwa stok minyak sulingan di Amerika Serikat, Eropa, dan Singapura per 16 Juni 2023 berada pada level terendah sejak tahun 2015. Stok yang menipis ini semakin memperburuk kelangkaan pasokan BBM global.
Meskipun harga minyak mentah berpotensi mengalami penurunan, sentimen pasar masih tertekan oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang dapat memicu penurunan permintaan minyak mentah. Namun, efek dari penurunan permintaan ini diyakini tidak akan mampu mengimbangi dampak kelangkaan pasokan BBM akibat krisis kilang. Kapasitas kilang yang terbatas menjadi faktor dominan yang menahan harga BBM untuk turun.
Sheldon menambahkan, “Meskipun ada potensi pelemahan permintaan minyak mentah, hal ini tidak akan cukup untuk mengimbangi dampak dari kapasitas kilang yang sangat ketat.” Prediksinya, harga BBM akan tetap tinggi selama margin kilang tetap tinggi, yang diperkirakan akan berlangsung hingga kuartal pertama tahun 2024. Situasi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi konsumen dan pemerintah di berbagai negara dalam mengelola anggaran energi.
