Di Balik Gemilang Assen: Pedro Acosta Akui KTM Terjebak Masalah Teknis Serius, ‘Terpaksa Percaya’ pada Motornya

Wibowo

Pedro Acosta berhasil mencuri perhatian dengan menempati posisi ketiga pada sesi latihan bebas Jumat (FP) untuk MotoGP Belanda di Sirkuit Assen. Namun, di balik hasil impresif tersebut, pembalap muda asal Spanyol ini segera meredam euforia, menegaskan bahwa performa apiknya tidak mencerminkan kecepatan sejati motor KTM yang masih dibayangi masalah teknis pelik. Ini menjadi sinyal bahaya bagi tim pabrikan Austria tersebut jelang balapan utama.

Acosta, yang sebelumnya berada di posisi kesebelas pada FP1, mampu melesat di FP2 dan mengakhiri sesi hanya terpaut 0,187 detik dari pembalap tercepat, Marco Bezzecchi. Lap tercepatnya dicatatkan setelah sesi sempat dihentikan sementara akibat insiden kecelakaan yang melibatkan Alex Marquez dan memerlukan restart. Pencapaian ini, meski mengesankan, diakui Acosta sebagai anomali di tengah kondisi motornya.

"Itu sebenarnya bukan batas maksimal, tapi kami belum siap untuk bertarung di tiga besar saat ini. Entah bagaimana, kami bisa menempatkan motor di posisi itu, namun bukan itu pertarungan kami yang sebenarnya," ungkap Pedro Acosta dengan jujur, menyoroti realitas yang ia hadapi di lintasan. Pernyataannya mengindikasikan bahwa hasil tersebut lebih kepada upaya maksimalnya sebagai pembalap ketimbang kekuatan murni dari motor KTM RC16.

Salah satu kendala utama yang dirasakan Acosta adalah stabilitas motor. Menurutnya, motor KTM miliknya masih sangat sulit untuk dikendarai secara konsisten selama 26 putaran penuh dalam balapan. Masalah ini terutama muncul saat memasuki tikungan cepat, seperti Tikungan 6 dan Tikungan 14 di Sirkuit Assen, di mana motornya sering mengalami guncangan hebat yang mengganggu keseimbangan.

"Kami harus berusaha membuat motor lebih stabil, karena saat ini cukup sulit untuk melaju 26 lap seperti ini," jelas pembalap yang dijuluki ‘The Shark’ ini. Ia menambahkan bahwa guncangan pada motornya sebenarnya sudah ada sejak musim lalu. Meskipun ada beberapa perubahan yang dilakukan dari tahun lalu hingga kini yang membuat guncangan tersebut "lebih normal", pada sesi Jumat di Assen, masalah ini justru kembali memburuk secara drastis.

Acosta bahkan mengakui bahwa pada beberapa momen, motornya terasa sangat sulit untuk melaju lurus, sebuah kondisi yang tentu saja sangat berbahaya bagi seorang pembalap MotoGP. "Tapi hari ini terlalu parah. Terkadang bahkan sulit untuk melaju lurus. Saat kami bisa mengatasi ini, barulah kami akan membuat langkah besar," tegasnya, menyoroti krusialnya perbaikan pada aspek stabilitas motor.

Masalah handling ini bukan satu-satunya kekhawatiran yang melanda tim KTM. Rentetan masalah teknis telah menghantui Acosta dalam beberapa balapan terakhir, puncaknya adalah dua kali gagal finis (DNF) berturut-turut pada MotoGP Republik Ceko di Sirkuit Brno akhir pekan sebelumnya. Insiden tersebut menjadi pukulan telak bagi Acosta yang tengah berupaya keras mengumpulkan poin.

Di Brno, Acosta harus terjatuh di balapan Sprint karena masalah pada perangkat ride-height, sebuah teknologi penting yang membantu motor berakselerasi lebih baik. Kemudian, pada balapan Grand Prix, ia terpaksa menghentikan motornya saat berada di posisi kelima pada lap terakhir akibat masalah teknis yang tidak terduga. Dua DNF ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar mengenai keandalan motor KTM.

Mengenai apakah masalah teknis yang menyebabkan DNF di Brno sudah teratasi, Acosta masih belum bisa memastikan. "Saya tidak tahu apakah sudah teratasi atau belum. Jika Anda melihat saya berhenti (lagi), Anda akan mengerti bahwa ada sesuatu yang salah lagi," ujarnya dengan nada pasrah, mengindikasikan bahwa kepercayaan terhadap motornya sedang diuji. Ia menambahkan bahwa tim masih berusaha memahami akar masalahnya.

"Mereka mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Sulit untuk mengatakan. Tapi waktu yang akan menjawab," kata Acosta. Situasi ini menempatkan tim teknis KTM di bawah tekanan besar untuk segera menemukan solusi, mengingat setiap balapan sangat krusial dalam perburuan gelar juara dunia. Tekanan ini juga semakin besar mengingat ambisi KTM untuk menjadi penantang serius di kategori premier.

Meski dilanda masalah, Acosta menunjukkan mentalitas seorang juara. Ia bersikeras untuk terus memacu motornya hingga batas, tidak peduli dengan risiko masalah teknis yang mungkin muncul. "Seperti yang saya katakan di Brno, jika kami memiliki masalah teknis, itu bukan di tangan saya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Apa solusinya: melaju lebih lambat? Jika itu solusinya, lebih baik tidak naik motor dan tidak berkompetisi," tegasnya.

Ketika ditanya apakah ia masih memiliki kepercayaan penuh pada motornya, Acosta memberikan jawaban yang menggambarkan dilema seorang pembalap. "Ketika Anda seorang pembalap, Anda tidak punya pilihan. Anda harus percaya. Anda adalah orang yang berada di atas motor dan orang yang akan terluka jika sesuatu terjadi. Untuk itu, Anda harus percaya," kata Acosta, menyoroti keberanian dan dedikasi yang tak tergoyahkan.

Situasi Acosta juga sedikit berbeda dengan rekan setimnya di KTM. Pembalap KTM terbaik berikutnya di sesi latihan bebas Jumat adalah Enea Bastianini, yang menempati posisi kedelapan. Ini menunjukkan bahwa masalah yang dialami Acosta mungkin spesifik pada motornya atau gaya balapnya yang mendorong motor hingga batas ekstrem, atau memang menjadi masalah umum yang dihadapi seluruh pembalap KTM dengan derajat berbeda.

Dengan balapan utama yang semakin mendekat di Sirkuit Assen, tantangan besar menanti KTM dan Pedro Acosta. Mereka harus bekerja ekstra keras untuk menemukan akar masalah stabilitas dan keandalan motor, serta memastikan bahwa Acosta bisa balapan dengan aman dan kompetitif. Hanya dengan mengatasi kendala teknis ini, Acosta dapat benar-benar menunjukkan potensi penuhnya dan mengubah posisi ketiga di latihan bebas menjadi hasil yang lebih berarti di hari Minggu.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All