Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima kunjungan delegasi rabi yang dikenal memiliki pandangan anti-Zionis di Gedung Putih pada Selasa, 17 September 2019. Pertemuan ini dilaporkan bertujuan untuk menyampaikan desakan agar perang di Jalur Gaza segera dihentikan.
Dalam pertemuan tersebut, para rabi yang tergabung dalam kelompok Neturei Karta International ini menyampaikan keprihatinan mendalam mereka terhadap situasi kemanusiaan di Jalur Gaza. Mereka secara tegas menolak dan mengutuk pendirian negara Israel, serta menyerukan diakhirinya pendudukan dan kekerasan terhadap warga Palestina.
Seorang juru bicara delegasi, Rabbi Yisrael Dovid Weiss, menyatakan kepada awak media usai pertemuan bahwa mereka telah menyampaikan pesan yang jelas kepada Presiden Trump. “Kami memberi tahu Presiden Trump bahwa kami di sini untuk perdamaian dan untuk mengakhiri perang yang mengerikan ini,” ujar Rabbi Weiss. Ia menambahkan bahwa pandangan mereka didasarkan pada ajaran agama yang menolak segala bentuk Zionisme dan negara Yahudi.
Lebih lanjut, Rabbi Weiss menekankan bahwa gerakan mereka tidak mewakili seluruh komunitas Yahudi, melainkan segmen yang menentang keras ideologi Zionis. Ia menjelaskan, “Kami di sini untuk menyampaikan kepada dunia bahwa Zionisme dan Yudaisme adalah dua hal yang berbeda. Ajaran Yahudi melarang pembentukan negara Yahudi di Tanah Suci.”
Delegasi tersebut juga membawa surat yang ditujukan kepada Presiden Trump, berisi permohonan untuk menggunakan pengaruhnya demi terciptanya gencatan senjata segera di Gaza dan penghentian seluruh bentuk permusuhan. Mereka berharap agar Amerika Serikat dapat berperan aktif dalam mendorong solusi damai yang menghargai hak-hak seluruh warga Palestina.
Pertemuan ini menandai adanya dialog antara pihak Gedung Putih dengan kelompok yang memiliki pandangan kritis terhadap kebijakan luar negeri AS terkait Israel dan Palestina. Delegasi rabi anti-Zionis berharap audiensinya dengan Presiden Trump dapat membuka jalan bagi perubahan sikap dan tindakan yang lebih berpihak pada perdamaian dan kemanusiaan di wilayah konflik tersebut.
