Paparan asap, terutama saat musim kemarau atau bencana kebakaran, kerap menimbulkan keluhan batuk dan sesak napas. Namun, tidak semua gejala tersebut menandakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Penting untuk mengenali perbedaan antara iritasi akibat asap dan infeksi yang sesungguhnya.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian saluran napas yang disebabkan oleh kuman penyakit. Kuman tersebut dapat berupa virus, bakteri, atau jamur. Gejala ISPA umumnya meliputi batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, dan terkadang disertai sesak napas.
Sementara itu, iritasi akibat asap bersifat lebih sementara dan merupakan respons langsung dari sistem pernapasan terhadap partikel-partikel berbahaya dalam asap. Gejala iritasi ini seringkali mirip dengan ISPA awal, seperti batuk kering, mata berair, hidung meler, dan tenggorokan terasa gatal atau perih. Namun, iritasi asap umumnya akan mereda seiring dengan hilangnya paparan terhadap sumber asap.
Perbedaan mendasar terletak pada penyebabnya. ISPA disebabkan oleh infeksi mikroorganisme patogen yang membutuhkan penanganan medis, seringkali dengan antibiotik jika disebabkan bakteri. Sebaliknya, iritasi asap disebabkan oleh reaksi inflamasi terhadap polutan kimia dalam asap, seperti karbon monoksida, sulfur dioksida, dan partikulat halus.
Dokter Spesialis Paru, dr. Feni Taufani, dalam sebuah pernyataan, menekankan pentingnya observasi lebih lanjut jika gejala tidak membaik. “Jika batuk dan sesak tidak kunjung hilang setelah beberapa hari, atau malah memburuk, itu bisa menjadi indikasi adanya infeksi sekunder atau kondisi yang lebih serius,” ujarnya.
Kemenkes RI merekomendasikan beberapa langkah pencegahan dan penanganan awal, baik untuk ISPA maupun iritasi asap. Menjaga kebersihan diri, menghindari kerumunan, dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan adalah langkah penting. Bagi yang mengalami gejala iritasi asap, disarankan untuk segera menjauhi sumber asap dan banyak minum air putih untuk membantu membersihkan saluran napas.
Jika gejala ISPA dicurigai, seperti demam tinggi yang tidak kunjung turun, sesak napas yang parah, atau batuk berdahak berwarna pekat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan dini sangat krusial untuk mencegah komplikasi lebih lanjut, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru kronis.
