Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau negara tetangga, khususnya Malaysia dan Singapura, untuk tidak saling menyalahkan terkait masalah asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Imbauan ini disampaikan menyusul kekhawatiran munculnya saling tuding antarnegara mengenai sumber polusi udara yang berdampak lintas batas.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menegaskan pentingnya kerja sama dan fokus pada solusi ketimbang mencari kambing hitam. “Kita harus bersama-sama mencari solusi, bukan saling menyalahkan,” ujar Suharyanto dalam keterangan persnya, Senin (21/8/2023).
Menurut Suharyanto, masalah asap karhutla merupakan isu kompleks yang memerlukan pendekatan kolaboratif. Ia menekankan bahwa Indonesia terus berupaya keras memadamkan titik api dan mencegah perluasan kebakaran. “Pemerintah Indonesia telah mengerahkan segala upaya untuk mengendalikan karhutla, baik melalui darat maupun udara,” tambahnya.
Ia juga menyoroti bahwa asap yang melintasi batas negara tidak hanya berasal dari satu sumber, melainkan bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk arah angin dan kondisi geografis. Oleh karena itu, fokus seharusnya diarahkan pada upaya pencegahan dan penanggulangan bersama.
Dalam upaya penanganan karhutla, BNPB bersama instansi terkait terus melakukan patroli rutin, operasi pemadaman dengan water bombing, serta sosialisasi kepada masyarakat di wilayah rawan. Data dari BNPB per 20 Agustus 2023 menunjukkan bahwa upaya pengendalian terus digencarkan di berbagai provinsi yang terdampak.
Suharyanto berharap Malaysia dan Singapura dapat memahami upaya yang telah dilakukan Indonesia dan bersama-sama mencari solusi konkret untuk mengatasi masalah kabut asap demi kesehatan dan kenyamanan bersama di kawasan ASEAN. “Kita berharap negara-negara tetangga dapat melihat upaya kita dan kita bisa bekerja sama lebih baik lagi,” tutupnya.
