Korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, Tiongkok, kini dilaporkan telah menembus angka 1.000 orang. Ribuan lainnya masih belum ditemukan dan dinyatakan hilang, menimbulkan kekhawatiran akan jumlah korban yang terus bertambah.
Bencana dahsyat ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur sejak beberapa hari terakhir, menyebabkan sungai-sungai meluap dan memicu longsoran tanah masif. Wilayah yang paling parah terdampak adalah di sepanjang perbatasan kedua negara, di mana pemukiman penduduk hancur lebur akibat terjangan air dan lumpur.
Pihak berwenang dari kedua negara telah mengerahkan tim penyelamat untuk melakukan pencarian korban. Operasi ini menghadapi tantangan berat karena medan yang sulit dan cuaca yang masih belum bersahabat. Tim SAR gabungan berupaya keras menembus puing-puing bangunan dan material longsoran untuk menemukan korban selamat maupun jenazah.
Menurut laporan dari berbagai sumber, jumlah korban tewas yang dikonfirmasi terus mengalami peningkatan seiring dengan ditemukannya jenazah dan data yang terverifikasi. Ribuan orang lainnya dilaporkan hilang, dan keluarga mereka diliputi kecemasan menunggu kabar terbaru. Tingginya angka korban jiwa ini menjadikan bencana ini sebagai salah satu yang terparah melanda kawasan tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
Upaya bantuan darurat juga terus digencarkan. Bantuan berupa makanan, air bersih, obat-obatan, serta tenda pengungsian mulai disalurkan kepada para penyintas yang kehilangan tempat tinggal. Pemerintah Nepal dan Tiongkok berkoordinasi untuk memastikan bantuan sampai ke lokasi-lokasi terpencil yang sulit dijangkau akibat kerusakan infrastruktur.
