Banjir dahsyat yang melanda Nepal pekan lalu telah melumpuhkan lebih dari 10% kapasitas pembangkit energi negara itu. Peristiwa ini menyoroti kerentanan strategi Nepal yang sangat bergantung pada tenaga air (hidroelektrik) sebagai sumber energi utamanya.
Bencana alam ini tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan, tetapi juga memunculkan kembali pertanyaan krusial mengenai keberlanjutan model energi Nepal di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim. Lebih dari selusin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dilaporkan mengalami kerusakan parah, menghentikan pasokan listrik ke berbagai wilayah.
Pemerintah Nepal telah lama menjadikan pengembangan tenaga air sebagai pilar utama dalam kebijakan energi nasionalnya. Negara ini memiliki potensi hidroelektrik yang sangat besar, dan investasi besar telah digelontorkan untuk membangun berbagai proyek PLTA. Namun, ketergantungan yang begitu besar pada satu sumber energi, terutama yang rentan terhadap kondisi cuaca ekstrem, kini terbukti menjadi sebuah risiko.
“Kami telah berinvestasi besar-besaran pada hidroelektrik, dan ini adalah pertama kalinya kami menghadapi pukulan sebesar ini,” ujar seorang pejabat Kementerian Energi Nepal yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa pemulihan infrastruktur yang rusak diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk beberapa proyek yang paling parah terdampak.
Para ahli lingkungan dan energi telah lama memperingatkan tentang risiko yang melekat pada ketergantungan tunggal pada tenaga air. Dr. Anjana Sharma, seorang peneliti energi dari Universitas Tribhuvan, menyatakan, “Peristiwa ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah. Kita perlu mendiversifikasi sumber energi kita. Energi surya dan angin, meskipun masih dalam tahap awal pengembangan di Nepal, bisa menjadi alternatif yang lebih tangguh.”
Analisis menunjukkan bahwa selain kerugian langsung pada kapasitas pembangkit, banjir juga menyebabkan kerusakan pada jaringan transmisi dan distribusi listrik, memperparah dampak pemadaman. Data dari Nepal Electricity Authority (NEA) mencatat bahwa setidaknya 15 PLTA mengalami kerusakan, dengan total kerugian kapasitas mencapai ratusan megawatt. Angka ini mewakili sebagian besar dari total kapasitas energi terpasang Nepal yang saat ini mencapai ribuan megawatt.
Meskipun Nepal memiliki potensi besar untuk energi terbarukan, realisasi dan diversifikasi sumber energi masih tertinggal. Banjir kali ini menjadi pengingat keras bahwa strategi energi yang berfokus pada satu sumber saja dapat membuat negara rentan terhadap guncangan eksternal, terutama yang disebabkan oleh perubahan iklim yang semakin tak terduga.
