Arab Saudi telah menyatakan dengan tegas bahwa normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel tidak akan terwujud sebelum negara Palestina yang merdeka berdiri. Pernyataan ini menggarisbawahi posisi Riyadh yang tetap menjadikan isu Palestina sebagai prasyarat utama dalam setiap langkah menuju normalisasi dengan Tel Aviv.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, menyampaikan hal ini dalam sebuah wawancara dengan CNN pada Rabu, 24 Januari 2024. Ia menegaskan, “Normalisasi dengan Israel hanya mungkin terjadi jika negara Palestina didirikan dan negara Palestina tersebut memiliki kemerdekaan.” Pernyataannya ini mengkonfirmasi bahwa konsensus regional dan internasional yang telah lama diupayakan, yaitu solusi dua negara, tetap menjadi landasan bagi Saudi dalam menjajaki hubungan dengan Israel.
Pangeran Faisal menekankan bahwa visi Arab Saudi sejalan dengan apa yang telah disepakati secara luas di tingkat internasional. Ia menambahkan, “Presiden Biden telah berbicara tentang hal ini, dan kami percaya bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian dan keamanan di kawasan ini.” Pernyataan ini secara tidak langsung merujuk pada upaya Amerika Serikat yang terus mendorong solusi dua negara sebagai kerangka kerja untuk perdamaian Israel-Palestina.
Lebih lanjut, Pangeran Faisal mengklarifikasi bahwa tanpa adanya negara Palestina yang merdeka, upaya normalisasi tidak akan membawa manfaat yang signifikan bagi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Ia menyatakan, “Tanpa adanya negara Palestina, sebuah kesepakatan apa pun tidak akan membawa perdamaian atau keamanan yang substantif.” Hal ini menyiratkan bahwa langkah-langkah normalisasi yang terpisah dari penyelesaian isu Palestina akan dianggap dangkal dan tidak berkelanjutan oleh Arab Saudi.
Meskipun demikian, Pangeran Faisal juga mengakui adanya potensi keuntungan ekonomi dan keamanan yang dapat dihasilkan dari normalisasi hubungan dengan Israel, namun keuntungan tersebut harus dibarengi dengan kemajuan nyata dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina. Ia menyebutkan, “Ada banyak manfaat yang sangat besar bagi seluruh negara di kawasan ini, termasuk Israel, jika negara Palestina dapat didirikan.” Pernyataan ini mengindikasikan kesediaan Saudi untuk mengeksplorasi normalisasi, namun dengan syarat yang jelas dan tidak dapat ditawar.
Posisi Arab Saudi ini menjadi sorotan penting di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang terus berubah. Dengan menegaskan kembali komitmennya terhadap hak-hak Palestina, Riyadh mengirimkan pesan kuat kepada Israel dan komunitas internasional mengenai prioritas utama dalam membangun tatanan regional yang damai dan adil.
