Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas dengan adanya indikasi Israel tengah mengkaji ulang opsi serangan terhadap Iran. Keputusan ini muncul di tengah memburuknya kondisi ekonomi Iran yang kian tertekan akibat eskalasi konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat pasca serangan rudal dan drone Iran ke Israel pada 13 April 2024, yang merupakan balasan atas serangan Israel ke konsulat Iran di Damaskus, Suriah, pada 1 April 2024. Serangan balasan Iran ini menyebabkan beberapa korban luka dan kerusakan ringan.
Menanggapi serangan tersebut, Israel melancarkan serangan balasan terbatas pada 19 April 2024, menargetkan wilayah dekat Kota Isfahan, Iran. Serangan ini dilaporkan menyebabkan suara ledakan di area tersebut, namun Iran mengklaim berhasil menahan sebagian besar ancaman.
Seorang pejabat senior Israel, yang meminta namanya dirahasiakan, menyatakan kepada Reuters bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan berbagai opsi respons terhadap Iran. “Kami sedang mempertimbangkan kembali apa yang akan kami lakukan,” ujarnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Israel belum sepenuhnya menghentikan niatnya untuk mengambil tindakan lebih lanjut.
Dampak ekonomi dari konflik yang berlarut-larut ini sangat terasa bagi Iran. Mata uang negara itu, Rial, terus mengalami pelemahan signifikan. Sejak awal April 2024, Rial telah kehilangan sekitar 30% nilainya terhadap Dolar AS. Pada 17 April 2024, nilai tukar Rial tercatat mencapai angka terendah baru, yaitu 600.000 terhadap satu Dolar AS di pasar non-resmi, sebelum sedikit menguat ke kisaran 580.000 pada 19 April 2024.
Pelemahan mata uang ini diperparah oleh sanksi internasional yang telah lama membatasi kemampuan Iran untuk melakukan transaksi keuangan global. Perang yang sedang berlangsung telah memicu kekhawatiran akan pengetatan sanksi lebih lanjut, yang berpotensi semakin mencekik perekonomian Iran.
Situasi ini juga memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar keuangan. “Pasar sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik saat ini,” kata seorang analis keuangan yang berbasis di Dubai, yang tidak ingin disebutkan namanya. “Setiap eskalasi baru dapat memicu volatilitas yang lebih besar dan meningkatkan risiko bagi perekonomian Iran.”
Meskipun Israel menyatakan sedang mempertimbangkan kembali langkah selanjutnya, pernyataan pejabat senior Israel tersebut menunjukkan bahwa opsi serangan balasan lebih lanjut masih terbuka. Ketidakpastian ini, dikombinasikan dengan tekanan ekonomi yang sudah ada, menciptakan lanskap yang sangat rapuh di kawasan tersebut.
