Ketegangan global memanas seiring munculnya sinyal kuat dari Iran. Teheran dikabarkan siap memainkan kartu terkuatnya. Ancaman ini datang melalui sekutu dekatnya, kelompok Houthi di Yaman.
Fokus utama ancaman tersebut adalah penutupan jalur pelayaran strategis Selat Bab el-Mandeb. Lokasi vital ini menjadi pintu gerbang utama menuju Laut Merah. Implikasinya bagi pasar energi dunia sungguh mengkhawatirkan.
Para analis pasar energi internasional menyoroti potensi lonjakan harga minyak mentah yang ekstrem. Jika skenario penutupan ini terjadi, harga minyak dunia diprediksi bisa melesat hingga mencapai USD 200 per barel. Angka ini setara dengan sekitar Rp 3 miliar jika dikonversi dengan kurs saat ini.
Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Setiap hari, jutaan barel minyak mentah melintasi perairan sempit ini. Ketergantungan global pada pasokan energi yang melewati selat ini sangatlah tinggi.
Penutupan jalur ini akan secara drastis mengganggu rantai pasok energi global. Negara-negara pengimpor minyak akan menghadapi kelangkaan pasokan yang signifikan. Hal ini secara otomatis akan mendorong kenaikan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Iran, melalui dukungan terhadap Houthi, memiliki kemampuan untuk menciptakan disrupsi besar di kawasan tersebut. Gerakan militer Houthi di Yaman telah menunjukkan kapabilitas mereka dalam mengancam aktivitas pelayaran. Ancaman ini bukan sekadar retorika kosong.
Dampak dari kenaikan harga minyak ini akan terasa luas. Inflasi global diprediksi akan melonjak tajam. Biaya logistik dan transportasi akan meningkat drastis. Perekonomian dunia yang masih dalam fase pemulihan pascapandemi COVID-19 akan kembali menghadapi tantangan berat.
Pertanyaan besar pun muncul: bagaimana komunitas internasional akan merespons ancaman ini? Upaya diplomatik intensif diperkirakan akan dilancarkan untuk mencegah terjadinya penutupan selat tersebut. Namun, belum ada pernyataan resmi dari pihak Iran maupun Houthi mengenai detail rencana mereka.
Pemerintah di berbagai negara dan pelaku pasar energi global saat ini memantau situasi dengan cermat. Mereka bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi dunia. Nasib harga minyak dunia kini bergantung pada dinamika geopolitik di Timur Tengah.
