Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan, atau yang akrab disapa Zulhas, memberikan klarifikasi mengenai penyebab defisit neraca perdagangan Indonesia yang terjadi belakangan ini. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah akibat dari pelemahan kinerja ekspor nasional, melainkan dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah di pasar global.
Menurut Mendag Zulhas, meskipun data menunjukkan adanya pertumbuhan positif pada nilai ekspor Indonesia, dampak kenaikan harga minyak yang signifikan telah menggerus surplus perdagangan. “Ekspor kita tumbuh, tapi ada defisit. Ini karena harga minyak dunia naik tinggi,” ungkap Mendag Zulhas dalam keterangannya.
Pernyataan ini disampaikan Mendag Zulhas untuk meluruskan persepsi publik yang mungkin mengaitkan defisit neraca perdagangan dengan penurunan daya saing produk ekspor Indonesia. Ia menekankan bahwa faktor eksternal, khususnya fluktuasi harga komoditas energi internasional, memegang peranan krusial dalam membentuk neraca perdagangan tanah air.
Lebih lanjut, Mendag Zulhas memaparkan bahwa kenaikan harga minyak mentah secara global berdampak langsung pada nilai impor Indonesia. Hal ini terjadi karena Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyaknya. Dengan harga yang meroket, biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut pun ikut membengkak, sehingga menekan surplus neraca perdagangan yang seharusnya bisa lebih besar.
Sebelumnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit. Namun, Mendag Zulhas berharap masyarakat memahami bahwa fenomena ini merupakan konsekuensi dari dinamika pasar global yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh kebijakan domestik. Upaya pemerintah terus dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong peningkatan nilai tambah produk ekspor agar lebih kompetitif di pasar internasional.
