Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan praktik ‘cognitive offloading’ atau pengalihan beban kognitif berpotensi membawa dampak negatif bagi kesehatan otak. Seorang pakar memperingatkan bahwa para profesional medis, khususnya, perlu mewaspadai tren ini.
Fenomena ini muncul di tengah kabar baik mengenai prevalensi demensia di Amerika Serikat yang ternyata lebih rendah dari perkiraan. Menurut Alexander Chaitoff, MD, MPH, seorang asisten profesor di departemen kedokteran internal University of Michigan Medical School, dan rekan-rekannya, salah satu faktor penyebabnya adalah peningkatan tingkat pendidikan masyarakat selama beberapa dekade terakhir. Namun, muncul pertanyaan krusial: apakah pengalihan beban kognitif yang dimungkinkan oleh sistem AI, yang kini memiliki lebih dari 100 juta pengguna harian, justru akan meniadakan atau bahkan memperkuat keuntungan yang diperoleh dari peningkatan pendidikan tersebut?
Chaitoff dan timnya mengemukakan pandangan ini dalam sebuah publikasi di jurnal JAMA Internal Medicine. Mereka menyoroti bagaimana semakin populernya AI dan kemampuannya untuk melakukan tugas-tugas yang sebelumnya memerlukan proses kognitif manusia, seperti mengingat informasi atau membuat keputusan sederhana, dapat mengubah cara otak kita bekerja.
Konsep ‘cognitive offloading’ merujuk pada strategi di mana individu mengandalkan alat eksternal, termasuk teknologi digital, untuk mengurangi beban mental yang dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu tugas. Jika sebelumnya manusia mengandalkan memori, catatan fisik, atau perhitungan mental, kini AI menawarkan solusi yang lebih instan dan efisien. Misalnya, asisten virtual dapat mengingatkan jadwal, aplikasi navigasi mengarahkan jalan, dan mesin pencari menyediakan jawaban cepat atas pertanyaan.
Meskipun kemudahan ini menawarkan keuntungan produktivitas, para ahli kesehatan saraf mulai mengkhawatirkan implikasi jangka panjangnya. Otak, seperti otot lainnya, memerlukan stimulasi dan latihan untuk menjaga kesehatannya. Jika terlalu banyak fungsi kognitif yang dialihkan ke AI, ada risiko bahwa kemampuan otak untuk berpikir, memecahkan masalah, dan mengingat dapat mengalami penurunan. Potensi penurunan ini menjadi perhatian khusus bagi para profesional medis, yang pekerjaannya sangat bergantung pada fungsi kognitif yang optimal.
Lebih lanjut, Chaitoff dan koleganya menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami secara mendalam hubungan antara penggunaan AI, ‘cognitive offloading’, dan kesehatan kognitif jangka panjang. Mengingat pesatnya adopsi teknologi AI di berbagai aspek kehidupan, kesadaran akan potensi dampaknya terhadap otak menjadi langkah awal yang penting untuk merancang strategi mitigasi dan menjaga kesehatan kognitif di era digital ini.
