Pontianak, 28 Agustus 2026 – Pasangan ganda putri Indonesia, Salsabila Zahra Aulia dan Sheila Lidia, harus mengakhiri kiprahnya di POLYTRON Pontianak International Challenge 2026 pada babak perempatfinal. Meski tersingkir, penampilan keduanya dinilai menunjukkan performa yang menjanjikan.
Langkah Salsa/Sheila terhenti setelah kalah dari wakil Jepang, Nijika Kamata/Maya Taguchi, dengan skor 13-21, 17-21 di babak perempatfinal. Sebelumnya, pada babak 16 besar, mereka berhasil menunjukkan dominasi atas wakil Thailand, Nutnicha Jatupanaporn/Peeraya Wechawong, dengan skor telak 21-12, 21-8.
Menyikapi kekalahan di perempatfinal, Salsabila Zahra Aulia mengakui keunggulan lawan dalam hal kematangan dan ketahanan bermain. “Kami tidak menyangka bisa memberikan perlawanan yang cukup seru kepada mereka tadi. Tapi dari segi permainan memang kami kalah matang dan kalah alot,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kekalahan ini menjadi evaluasi penting untuk meningkatkan kekuatan mereka di masa mendatang agar bisa menyaingi pasangan sekelas Jepang.
Meskipun demikian, Salsa tetap merasa optimistis. “Di debut ini, kami sudah tampil all out, menunjukkan yang terbaik. Dari pola dan strategi juga masuk dan klop. Ini membuat mental kepercayaan diri bertambah untuk ke depannya,” ungkapnya.
Sementara itu, Sheila Lidia menyatakan rasa syukurnya atas kesempatan yang diberikan. “Saya bersyukur bisa dapat kesempatan magang di pelatnas, banyak ilmu dan pelajaran yang bisa saya ambil. Puji Tuhan tadi kami bisa bermain cukup baik,” tuturnya.
Terjadinya pasangan Salsa/Sheila di ajang ini memang terbilang cukup singkat dalam hal persiapan bersama. Salsabila menjelaskan, “Pertandingan hari ini berjalan dengan lancar. Strategi yang kami buat bersama pelatih juga bisa berjalan dengan baik. Kami memang tidak punya waktu persiapan yang banyak, Sheila belum satu bulan magang di pelatnas dan saya lebih banyak berlatih di ganda campuran.” Meski begitu, mereka berupaya memaksimalkan waktu latihan yang ada. “Tapi kami coba fokus di individunya dan memanfaatkan dua sampai tiga kali dalam seminggu untuk berlatih bersama.” Komunikasi dan penyatuan pola permainan dinilai tidak menjadi kendala besar, mengingat peran Salsa sebagai pemain depan dan Sheila sebagai pemain belakang.
Sheila menambahkan soal evaluasi di lapangan, “Kami kurang tahan dibanding mereka, jadi seperti lagi rally-rally ada pukulan-pukulan yang kami malah banyak mati-mati sendiri.” Pengalaman di POLYTRON Pontianak International Challenge 2026 ini diharapkan dapat menjadi bekal berharga bagi Salsa dan Sheila untuk terus berkembang.
