Guncangan hebat yang melanda Venezuela pada Rabu malam (24/6/2026) menyisakan teror mendalam bagi warganya. Di Caracas, ibu kota negara, kepanikan melanda saat dua kali gempa kuat mengguncang, membuat bangunan berderak dan sebagian roboh. Warga berlarian ke jalanan, trauma mendalam akibat pengalaman horor yang mereka rasakan. "Saya pikir saya akan mati," ujar Verónica, salah seorang warga Caracas, kepada BBC Mundo, menggambarkan ketakutannya saat dinding apartemennya bergetar hebat.
Gempa pertama dengan magnitudo 7.2 terjadi sekitar pukul 18:00 waktu setempat, disusul gempa kedua yang sedikit lebih besar, bermagnitudo 7.5, hanya berselang beberapa detik. Peristiwa ini terjadi saat banyak warga sedang merayakan hari libur nasional di rumah bersama keluarga. Hingga kini, lebih dari 30 orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Pihak berwenang memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa dan kerusakan diperkirakan masih akan bertambah, terutama di wilayah-wilayah yang paling terdampak dan sulit dijangkau.
Kekacauan terlihat jelas di jalanan Caracas. Puing-puing bangunan berserakan, sementara tim penyelamat berjuang menembus reruntuhan untuk mencari korban selamat. Rekaman video yang beredar menunjukkan warga yang berteriak meminta pertolongan dari bawah puing. Di berbagai wilayah Venezuela yang terdampak, gambaran kerusakan masih terus bermunculan. Gangguan pasokan listrik dan internet semakin memperparah situasi, membuat upaya penjangkauan dan pendataan korban menjadi semakin sulit.
Malam hari di Caracas diwarnai dengan keputusasaan. Warga yang kehilangan rumah, atau belum mengetahui nasib sanak saudara mereka, berkumpul di jalanan, menanti kabar dan informasi. Verónica, yang apartemennya hancur akibat gempa, menceritakan pengalaman mengerikan itu kepada kakaknya, Valentina Oropeza, jurnalis BBC Mundo. Pesan suara singkat yang dikirim Verónica, dengan suara terengah-engah dan suara ibunya di latar belakang, menggambarkan kepanikan yang melanda. Setelah itu, komunikasi terputus selama berjam-jam, meninggalkan Valentina dalam kecemasan yang mendalam.
"Bangunannya hancur total, dindingnya retak," kata Verónica setelah berhasil dihubungi, mengonfirmasi bahwa ia dan ibunya selamat, namun kemungkinan besar kehilangan tempat tinggal. Pengalaman ini mengingatkan kembali pada bencana gempa bumi besar yang pernah melanda Caracas pada tahun 1967, yang menewaskan lebih dari 200 orang dan menghancurkan sejumlah bangunan di kawasan Palos Grandes dan Altamira.
Namun, para penyintas gempa kali ini mengaku merasakan guncangan yang jauh lebih dahsyat dan berlangsung lebih lama. "Saya tidak pernah menyangka kami akan mengalami sesuatu seperti ini," ujar ibu Verónica, suaranya masih terdengar bergetar. Coro Martinez, seorang warga berusia 56 tahun di Caracas timur, juga menyatakan hal serupa. "Saya belum pernah mengalami yang seperti ini. Terdengar suara tabrakan yang sangat keras. Barang-barang berjatuhan di dalam rumah, termasuk botol-botol di dalam kulkas," katanya kepada Reuters.
Nicole Kolster, jurnalis BBC Mundo yang berada di apartemen lantai tujuh di Palos Grandes, merasakan jendela apartemennya bergetar hebat. Ia hanya punya waktu singkat untuk mencari perlindungan di antara pintu depan dan dinding batu. "Yang bisa saya pikirkan hanyalah berlindung di antara pintu depan dan dinding batu untuk melindungi diri. Saya pikir gedung ini akan runtuh menimpa saya," tuturnya.
Usai evakuasi ke jalanan, Kolster mendengar suara-suara dari tumpukan puing. Para penyintas, yang berlari keluar rumah tanpa sempat memakai alas kaki, saling berpelukan dan menangis. "Ada orang-orang yang sangat sedih, tidak berdaya karena tidak bisa mengeluarkan hewan peliharaan mereka," kata Kolster. Alan Chung, seorang guru di Caracas, adalah salah satu dari mereka yang cemas menunggu kabar dua kucing kesayangannya. "Sayangnya saya belum bisa kembali ke apartemen saya untuk melihat apakah mereka baik-baik saja… mari berharap yang terbaik," ujarnya kepada BBC Radio 4.
Aliran informasi dari wilayah yang paling terdampak, seperti negara bagian La Guaira di utara Caracas, terhambat akibat kerusakan infrastruktur. Namun, gambar dan video yang beredar menunjukkan bangunan yang rata dengan tanah, kebakaran besar, dan warga yang terpaksa tidur di dalam mobil mereka. Bagi yang tidak bisa atau terlalu takut kembali ke rumah, tenda-tenda darurat didirikan di jalanan. Korban luka membanjiri rumah sakit lapangan di ibu kota negara bagian tersebut.
Presiden sementara Delcy RodrÃguez menyatakan bahwa "puluhan" bangunan roboh di La Guaira, menyebutnya sebagai "zona bencana" dan "tragedi nyata". Tingkat keparahan situasi membuat pihak berwenang belum dapat memperkirakan jumlah korban jiwa secara pasti. Selain La Guaira, negara bagian Miranda, Aragua, Carabobo, dan Falcón juga dilaporkan mengalami dampak signifikan akibat gempa bumi ini. Upaya penyelamatan dan penanggulangan bencana terus dilakukan di tengah kondisi yang sangat menantang.











