Gelaran wisuda di kampus elit Universitas Stanford baru-baru ini menjadi saksi bisu pergulatan generasi muda dengan teknologi kecerdasan buatan (AI). Fenomena ini terungkap ketika para pembicara utama, termasuk CEO Google Sundar Pichai, menghadapi penolakan dan protes dari sebagian lulusan saat menyinggung topik AI. Di jantung Silicon Valley, tempat lahirnya banyak raksasa teknologi AI, para lulusan Stanford yang dianggap memiliki tiket emas menuju karier cemerlang justru menyuarakan keraguan dan kekhawatiran terhadap masa depan yang didominasi AI.
Sejak awal kemunculannya, AI telah memicu perdebatan sengit. Di lingkungan akademis bergengsi seperti Stanford, di mana inovasi teknologi berdenyut kencang, antusiasme terhadap AI bercampur dengan kecemasan. Sebagian lulusan menyambut AI sebagai alat potensial untuk kemajuan, sementara yang lain merasa gelisah melihat dampaknya yang begitu cepat dan luas terhadap berbagai aspek kehidupan.
Ifdita Hasan, seorang lulusan mayor Ilmu Komputer dan AI, menyatakan optimismenya. Ia melihat AI sebagai peluang untuk memahami alam semesta lebih dalam. Namun, ia tidak terkejut dengan adanya reaksi negatif. "Ini seperti yang terjadi pada internet dulu," ujarnya, seraya mengajak untuk tetap terbuka dan belajar tentang AI. Pengalaman serupa terjadi pada kemunculan teknologi baru lainnya, di mana pesimisme awal seringkali mewarnai diskursus.
Namun, kekhawatiran lebih mendalam dirasakan oleh lulusan lain seperti Atash Heil. Ia merasa terkejut dan sedikit takut melihat karya seni yang dihasilkan oleh AI, terutama pada momen kelulusannya. "Saya ingin seni dibuat oleh manusia. Itulah yang membuatnya seni," katanya, menyuarakan keprihatinan atas etika pengembangan AI yang dinilainya belum berjalan semestinya. Kekhawatiran ini diperparah oleh data yang menunjukkan penurunan drastis dalam penyerapan tenaga kerja bagi lulusan baru di sektor-sektor yang paling rentan terhadap otomatisasi AI.
Bahkan di program Ilmu Komputer yang sangat diminati di Stanford, beredar rumor mengenai kesulitan lulusan dalam mencari pekerjaan, sebuah tanda bahwa AI berpotensi mengubah lanskap karier secara signifikan. Meskipun pihak universitas belum merilis data pasti mengenai tingkat penyerapan kerja lulusan mereka, mayoritas lulusan yang diwawancarai BBC telah memiliki pekerjaan atau berencana melanjutkan studi.
Kedatangan ChatGPT setahun sebelum para lulusan ini masuk sebagai mahasiswa sarjana, telah mengubah segalanya. Muncul fenomena "cognitive offloading," di mana ketergantungan pada AI untuk tugas-tugas kognitif menjadi perhatian. Lucy Zimmerman, seorang lulusan Ilmu Komputer yang juga pernah menjadi asisten pengajar, mengamati perbedaan antara hasil tugas yang dikerjakan dengan bantuan AI dan performa ujian. Hal ini mendorong beberapa mata kuliah untuk kembali menerapkan pengawasan ketat saat ujian dan tes lisan guna mencegah kecurangan.
Stanford University, yang didirikan pada tahun 1891, memiliki peran sentral dalam membentuk ekosistem teknologi Amerika Serikat. Lokasinya yang strategis di "Silicon Valley" menjadikannya pusat inovasi dan sumber talenta bagi perusahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Meta, dan Apple. Universitas ini telah melahirkan banyak pionir teknologi, termasuk para pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin.
Istilah "kecerdasan buatan" sendiri pertama kali dicetuskan di Stanford oleh ilmuwan komputer John McCarthy. Hingga kini, universitas ini terus menjadi rumah bagi para pemikir terkemuka di bidang AI, seperti Fei-Fei Li dan Sam Altman, salah satu pendiri OpenAI. Dengan biaya kuliah yang mencapai hampir $400.000 untuk jenjang sarjana empat tahun, Stanford menawarkan kesempatan langka bagi lulusannya untuk meraih kesuksesan di dunia teknologi.
Namun, gelaran wisuda tahun ini juga diwarnai protes. Sekitar 200 mahasiswa melakukan aksi walkout saat CEO Google, Sundar Pichai, memberikan pidato. Aksi ini dipicu oleh kontrak Google dengan militer Israel dan dugaan keterlibatan perusahaan dalam pengawasan imigran. Para mahasiswa menyuarakan solidaritas untuk Palestina dan menyoroti isu etika dalam pengembangan teknologi AI. Pichai sendiri memilih bungkam saat ditanya mengenai aksi walkout tersebut.
Di tengah segala kekhawatiran, sebagian lulusan tetap melihat potensi AI sebagai solusi atas permasalahan yang ditimbulkannya. Atash Heil, misalnya, percaya bahwa AI dapat membantu dalam prediksi perubahan iklim. Meskipun ia merasa beruntung tumbuh di era pra-AI, ia siap menghadapi masa depan yang akan sangat dipengaruhi oleh teknologi ini. Generasi yang kini melangkah keluar dari gerbang Stanford ini, membawa harapan dan kegelisahan yang sama-sama kuat dalam menghadapi gelombang perubahan yang dibawa oleh kecerdasan buatan.











