Tuesday, 18 August 2026
BREAKING
KESEHATAN

Pelari Ultramaraton Bisa Tetap Berlatih Saat Hamil dengan Pengawasan Medis

Oleh Rini Widiyarti August 18, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Wanita yang berprofesi sebagai pelari ultramaraton dimungkinkan untuk tetap aktif berlari bahkan saat sedang hamil dan masa nifas, asalkan disertai dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat. Hal ini diungkapkan oleh seorang presenter dalam sebuah acara di Park City, Utah.

Meskipun para pelari ultramaraton wanita berpotensi menghadapi berbagai masalah ginekologis seperti ketidakstabilan otot dasar panggul, gangguan buang air kecil, gangguan anorektal, dan prolaps organ panggul, kemunculan masalah-masalah tersebut dilaporkan masih jarang terjadi. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa olahraga dengan intensitas sedang hingga teratur baik untuk kesehatan selama kehamilan.

Namun, menurut Isabelle Schӧffl, MD, MSc, PhD, masih minim penelitian yang secara spesifik mengkaji dampak latihan tingkat elit atau ekstrem terhadap kehamilan. “Ada kesenjangan besar dalam literatur,” kata Schӧffl, seorang peneliti di Departemen Ginekologi dan Obstetri di Universitas Charité di Berlin, Jerman, yang mempresentasikan temuannya pada pertemuan tahunan American College of Sports Medicine (ACSM).

Schӧffl menambahkan, “Kami perlu tahu apakah lari jarak jauh dapat menyebabkan masalah jangka panjang.” Ia juga menyebutkan bahwa data yang ada saat ini sebagian besar berasal dari studi observasional. Hal ini berarti, data tersebut tidak dapat menentukan sebab dan akibat secara pasti.

Meskipun demikian, Schӧffl dan rekan-rekannya telah mengumpulkan data dari penelitian yang dipublikasikan dan presentasi di konferensi yang melibatkan 30 wanita yang berlari ultramaraton saat hamil. Dari data tersebut, hanya satu wanita yang melaporkan mengalami masalah terkait kehamilannya, yaitu pecah ketuban dini pada usia kehamilan 34 minggu. Namun, hubungan sebab akibat antara lari ultramaraton dan kondisi tersebut belum dapat dipastikan.

Para peneliti juga meninjau data dari 10 studi yang melibatkan 129 wanita yang berolahraga intensif selama kehamilan. Sekitar 73% dari para wanita tersebut dilaporkan menjalani kehamilan normal, sementara 27% lainnya mengalami berbagai komplikasi, termasuk keguguran (13%), kelahiran prematur (10%), dan masalah pada bayi baru lahir (4%).

Schӧffl menekankan bahwa penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan untuk memahami risiko dan manfaat lari ultramaraton selama kehamilan. Ia juga menyarankan agar para wanita yang aktif berlari intensif dan sedang hamil untuk selalu berkonsultasi dengan profesional medis. “Pastikan Anda memiliki dukungan yang tepat dari tim medis Anda,” ujarnya.

Bagikan: Facebook X WhatsApp