Wednesday, 12 August 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Deretan Serial Mirip Black Mirror: Jelajahi Sisi Gelap Teknologi

Oleh Heni Maulidya August 12, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Sejak debutnya pada tahun 2011, serial antologi ‘Black Mirror’ telah menyajikan visi distopia tentang masa depan teknologi yang semakin terasa nyata. Di era kecerdasan buatan saat ini, di mana model bahasa mampu mereplikasi manusia hingga batas tertentu, ungkapan ‘itu terdengar seperti episode Black Mirror’ menjadi semakin umum terdengar.

Kondisi ini memaksa ‘Black Mirror’ untuk terus berinovasi, tidak hanya dalam alur cerita fiksi ilmiah yang mengerikan, tetapi juga dalam eksperimentasi genre. Namun, jika Anda mencari lebih banyak kisah tentang sisi gelap teknologi, Anda tidak perlu terpaku hanya pada tujuh musim ‘Black Mirror’ yang telah tayang. Ada sepuluh serial lain, beberapa di antaranya juga berformat antologi, yang menawarkan pandangan serupa tentang kehidupan modern dan teknologi.

Salah satu rekomendasi adalah ‘Love, Death & Robots’ (2019 – 2025). Diproduseri oleh Tim Miller dan David Fincher, serial animasi antologi ini menyajikan beragam cerita dari studio internasional yang berbeda. Setiap episode memiliki tautan unik melalui judulnya yang mengandung tiga kata kunci. Ceritanya bervariasi, mulai dari pertarungan gladiator robotik hingga ancaman yogurt hidup. Meskipun tidak selalu ambisius secara filosofis seperti ‘Black Mirror’, serial ini menawarkan hiburan dengan perpaduan teknologi, seks, dan kekerasan yang disajikan dalam animasi memukau. Tersedia di Netflix.

Bagi Anda yang mencari solusi keseimbangan kehidupan kerja, ‘Severance’ (2022 – ) menawarkan premis unik. Lumon Industries, sebuah raksasa bioteknologi, memisahkan kesadaran karyawan antara kehidupan kerja dan pribadi. Serial ini mengeksplorasi implikasi etis dari pemisahan tersebut, di mana setiap kesadaran tumbuh terpisah dan menimbulkan pertanyaan tentang hakikat diri. Terinspirasi oleh komedi gelap perkantoran dan film seperti ‘Brazil’ serta ‘Eternal Sunshine of the Spotless Mind’, ‘Severance’ menyajikan jawaban serial terhadap format antologi ‘Black Mirror’ dengan sentuhan teknologi futuristik dan kritik terhadap kapitalisme totaliter ala Amerika.

Serial miniseri ‘Years and Years’ (2019) yang ditulis oleh Russell T. Davies mengikuti perjalanan sebuah keluarga selama 15 tahun yang penuh gejolak. Dimulai dari masa kini (saat serial ini rilis pada 2019) hingga masa depan yang dekat, serial ini memaparkan skenario yang mengejutkan, seperti kemenangan Donald Trump di pemilu kedua dan naiknya Vivienne Rook yang populis ke tampuk kekuasaan di Inggris. Di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, keluarga Lyons harus beradaptasi dengan gejolak yang konstan. Serial ini terasa terlalu presisien dan seperti gabungan dari berbagai episode ‘Black Mirror’ yang menimpa satu keluarga.

Untuk nuansa yang berbeda, pertimbangkan ‘Ultra Q’ (1966). Serial Jepang ini, dengan judul asli ‘Unbalance’, seringkali membahas tema perpecahan antara manusia dan alam akibat peradaban modern, yang kemudian memunculkan kaiju destruktif. Jun, seorang penulis amatir, bersama seorang reporter muda, menyelidiki fenomena misterius yang seringkali melibatkan monster raksasa. Namun, cerita-ceritanya juga mencakup rumah berhantu, anak-anak kerasukan, dan perjalanan waktu. Serial ini melahirkan ‘Ultraman’ yang lebih terkenal.

‘Room 104’ (2017 – 2020) adalah serial antologi yang sangat eklektik. Berlatar di satu kamar motel yang tampak biasa, serial ini menyajikan berbagai genre cerita, mulai dari komedi, drama, sci-fi, hingga horor. Suasananya bervariasi dari manis hingga mencekam, bahkan apokaliptik. Serial ini menampilkan deretan bintang tamu ternama, seperti Tony Todd, Michael Shannon, dan Mahershala Ali. Kesamaan dengan ‘Black Mirror’ terletak pada sinisme terhadap kehidupan modern Amerika dan rasa ketidakpastian yang mendalam.

Serial orisinal ‘The Outer Limits’ (1963 – 1965) sering dibandingkan dengan ‘The Twilight Zone’, namun dengan lebih banyak monster yang liar. Jika ‘The Twilight Zone’ unggul dalam drama moral, ‘The Outer Limits’ lebih sering mengeksplorasi karakter manusia yang cacat dan kompleks menghadapi ancaman eksistensial, seringkali bersifat teknologi. Serial ini, meski gelap, memiliki nuansa yang kurang sinis, di mana karakternya mampu tumbuh di tengah perubahan teknologi, meskipun dengan pengorbanan yang tidak sedikit.

Bagikan: Facebook X WhatsApp