Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026. Mata uang Garuda merosot 106 poin, setara dengan 0,60%, dan ditutup pada level Rp17.861 per dolar Amerika Serikat.
Anjloknya rupiah ini dipicu oleh sentimen negatif yang berasal dari pasar global. Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjandra, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak terlepas dari pergerakan pasar keuangan internasional yang sedang diliputi ketidakpastian.
Ariston merinci, salah satu faktor utama yang membebani rupiah adalah kekhawatiran pasar terhadap kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Spekulasi mengenai kapan The Fed akan mulai menaikkan suku bunga acuannya terus menjadi perhatian investor global. “Sentimen eksternal memang sedang kuat menekan rupiah saat ini,” ujar Ariston kepada Bisnis, Selasa (11/8/2026).
Pergerakan dolar AS yang menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia turut memperparah kondisi rupiah. Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, terpantau bergerak positif. Penguatan dolar AS ini secara umum dapat membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi kurang menarik bagi investor.
Lebih lanjut, Ariston menggarisbawahi bahwa pergerakan pasar keuangan global memang sedang sangat dinamis. Berbagai indikator ekonomi dari negara-negara maju, terutama Amerika Serikat, terus dicermati oleh pelaku pasar untuk memprediksi arah kebijakan The Fed. “Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mencari aset yang lebih aman (safe haven) seperti dolar AS, sehingga permintaan terhadap mata uang negara berkembang bisa menurun,” tambahnya.
Meskipun demikian, Ariston mengingatkan agar tidak terlalu panik dengan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini. Ia berpendapat bahwa pergerakan rupiah masih dalam koridor yang wajar mengingat kondisi pasar global yang sedang bergejolak. “Kita perlu terus memantau perkembangan data ekonomi Amerika Serikat dan respons pasar terhadapnya,” pungkas Ariston.
