Ekonomi Indonesia dilaporkan mengalami pertumbuhan stagnan di angka 5%, sebuah pencapaian yang dinilai kurang memuaskan oleh para pengamat. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik J. Rachbini, menyoroti satu kesalahan fatal dalam arah kebijakan ekonomi nasional yang dinilainya menjadi akar masalah perlambatan ini. Menurutnya, orientasi kebijakan yang terlalu berpandangan ke dalam atau ‘inward-looking’ menjadi penyebab utama Indonesia tertinggal dari negara tetangga seperti Vietnam.
Didik J. Rachbini mengemukakan bahwa fokus kebijakan yang hanya mengutamakan pasar domestik tanpa strategi yang kuat untuk menembus pasar global telah membuat Indonesia kehilangan momentum. Ia secara spesifik menyebutkan bahwa Vietnam berhasil melakukan lompatan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi, salah satunya berkat strategi yang lebih agresif dalam menarik investasi asing dan memperluas ekspor.
“Kita ini kan terlalu banyak melihat ke dalam. Pasar kita besar, tapi kalau tidak bisa bersaing keluar, ya kita akan tertinggal,” ujar Didik J. Rachbini dalam sebuah diskusi yang dihadiri jurnalis. Ia menambahkan bahwa negara-negara lain, termasuk Vietnam, telah menunjukkan kemampuan adaptasi yang lebih baik dalam memanfaatkan peluang ekonomi global pascapandemi.
Lebih lanjut, Didik menjelaskan bahwa kesalahan fundamental terletak pada kurangnya dorongan bagi industri dalam negeri untuk meningkatkan daya saing di kancah internasional. Tanpa kemampuan bersaing yang memadai, produk-produk Indonesia akan sulit menembus pasar ekspor yang lebih luas, yang pada gilirannya akan membatasi potensi pertumbuhan ekonomi nasional.
Pendapat ini menggarisbawahi perlunya evaluasi mendalam terhadap strategi pembangunan ekonomi Indonesia. Fokus pada pasar domestik memang penting, namun harus diimbangi dengan upaya serius untuk memperkuat ekspor dan menarik investasi yang mampu mendorong peningkatan kapabilitas industri agar mampu bersaing di pasar global. Kinerja ekonomi Vietnam yang terus menanjak menjadi bukti nyata bahwa strategi yang berorientasi keluar (outward-looking) dapat memberikan hasil yang lebih optimal dalam jangka panjang.
