Nilai tukar rupiah berhasil menguat signifikan pada penutupan perdagangan Senin (10/8/2026). Mata uang Garuda tercatat naik 142 poin, atau sekitar 0,79%, menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Penguatan rupiah ini menjadi angin segar bagi perekonomian nasional, seiring dengan upaya pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Analis pasar keuangan, Budi Santoso, menilai tren positif ini didorong oleh beberapa faktor, termasuk perbaikan sentimen pasar global dan kebijakan moneter yang akomodatif.
“Kenaikan rupiah hari ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang terus membaik. Kita melihat adanya aliran dana masuk yang cukup kuat, baik melalui investasi portofolio maupun investasi langsung,” ujar Budi Santoso dalam keterangan tertulisnya.
Sebelumnya, rupiah sempat mengalami pelemahan dalam beberapa periode terakhir, mendekati angka Rp18.000 per dolar AS. Namun, dengan intervensi yang dilakukan oleh otoritas moneter dan respons positif pasar, tren tersebut berhasil dibalikkan.
Kepala Ekonom PT Indo Investama, Rina Wijaya, menambahkan bahwa penguatan rupiah ini juga tidak terlepas dari situasi ekonomi global yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan. “Momentum penguatan rupiah ini harus dijaga. Kebijakan fiskal yang prudent dan reformasi struktural yang berkelanjutan akan semakin memperkuat posisi rupiah di kancah internasional,” ungkap Rina Wijaya.
Perdagangan hari ini ditutup dengan rupiah berada di level yang lebih sehat, memberikan optimisme bagi pelaku usaha dan masyarakat. Penguatan ini diharapkan dapat menekan inflasi impor dan meningkatkan daya beli masyarakat, serta memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi.
