Iran akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait pembentukan “Pakta Pertahanan Makkah” yang melibatkan Turki, Arab Saudi, dan Pakistan. Perjanjian yang disebut-sebut memiliki kemiripan dengan NATO ini ditandatangani pada pekan lalu.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada hari ini, Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amirabdollahian, melontarkan kritik tajam terhadap langkah ketiga negara tersebut. Ia menilai bahwa pembentukan pakta baru ini justru akan menimbulkan ancaman baru bagi keamanan kawasan Timur Tengah, bukan justru memperkuatnya.
Amirabdollahian secara spesifik menyoroti potensi dampak negatif dari pakta tersebut. “Aliansi semacam ini bukanlah solusi, melainkan menciptakan masalah baru dan tantangan yang lebih besar bagi keamanan regional,” tegasnya dalam sebuah konferensi pers di Tehran. Ia menambahkan bahwa Iran selalu mengedepankan dialog dan kerja sama antarnegara di kawasan untuk mencapai perdamaian dan stabilitas yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, Iran menyuarakan kekhawatiran bahwa Pakta Pertahanan Makkah dapat memicu perlombaan senjata baru dan meningkatkan ketegangan yang sudah ada. “Kami percaya bahwa keamanan kawasan harus dibangun melalui kerja sama yang konstruktif, bukan melalui pembentukan blok-blok militer yang bersifat eksklusif,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, dalam kesempatan terpisah. Ia menekankan bahwa Iran terbuka untuk dialog dengan semua negara di kawasan, termasuk Arab Saudi, untuk membahas cara-cara memperkuat keamanan bersama.
Pembentukan Pakta Pertahanan Makkah ini memang memicu berbagai spekulasi dan analisis dari para pengamat hubungan internasional. Beberapa pihak melihatnya sebagai upaya untuk memperkuat pengaruh Turki di kawasan, sementara yang lain menganggapnya sebagai respons terhadap dinamika geopolitik yang terus berubah di Timur Tengah. Namun, Iran tetap teguh pada pendiriannya bahwa pakta semacam ini berpotensi mengganggu keseimbangan keamanan yang ada dan tidak sejalan dengan prinsip-prinsip kerja sama regional yang inklusif.
