Milisi Houthi dilaporkan melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak milik Arab Saudi yang berlokasi di dekat pesisir Laut Merah. Tindakan ini merupakan eskalasi terbaru dalam konflik yang semakin memanas antara Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Serangan tersebut terjadi pada hari Minggu, 20 Maret 2022, dan menyasar sebuah fasilitas distribusi produk minyak bumi milik perusahaan energi negara Saudi Aramco di kota Jeddah. Selain itu, Houthi juga mengklaim telah menargetkan wilayah lain di Arab Saudi dan Yaman, termasuk bandara di Abha dan Jizan, serta sasaran di provinsi Marib dan Al-Jawf, Yaman.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi Al-Masirah menyatakan bahwa serangan ini merupakan respons terhadap agresi dan pengepungan yang terus-menerus dilakukan oleh koalisi pimpinan Arab Saudi. Ia menegaskan bahwa serangan akan terus dilancarkan selama agresi tersebut berlanjut.
Koalisi pimpinan Arab Saudi mengonfirmasi adanya serangan tersebut dan menyatakan bahwa mereka berhasil mencegat dan menghancurkan beberapa drone dan rudal balistik yang diluncurkan oleh Houthi. Namun, mereka mengakui adanya insiden di fasilitas minyak Aramco di Jeddah yang menyebabkan kebakaran kecil dan tidak menimbulkan korban jiwa. “Kami berhasil mencegat beberapa rudal balistik yang diluncurkan oleh milisi Houthi ke arah kota Jeddah dan bandara Abha serta Jizan,” ujar Juru Bicara Koalisi, Brigadir Jenderal Turki Al-Malki, seperti dikutip dari Reuters.
Insiden ini memicu kekhawatiran internasional akan dampak yang lebih luas terhadap stabilitas regional dan pasokan energi global. Harga minyak mentah sempat mengalami kenaikan tipis pasca serangan tersebut, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap ketegangan di Timur Tengah. Serangan Houthi ini juga terjadi menjelang peringatan tujuh tahun intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman pada 26 Maret mendatang, yang semakin menambah tensi situasi.
