Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) secara resmi menutup total seluruh akses kunjungan wisata ke kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Keputusan ini diambil menyusul meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di area kaldera.
Penutupan ini berlaku mulai tanggal 19 September 2023 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Pihak BB TNBTS menyatakan bahwa penutupan dilakukan demi keselamatan pengunjung dan untuk memprioritaskan upaya pemadaman api yang sedang berlangsung.
Kepala BB TNBTS, Hendro Widjanarko, dalam keterangan persnya pada Selasa (19/9) menjelaskan, “Penutupan ini dilakukan untuk memprioritaskan keselamatan pengunjung dan juga untuk memberikan ruang gerak bagi tim gabungan dalam melakukan upaya pemadaman.” Ia menambahkan bahwa saat ini fokus utama adalah memadamkan api yang terus merambat.
Luasan lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 27,1 hektar. Api diduga berasal dari puntung rokok yang dibuang sembarangan oleh pengunjung. “Api berasal dari puntung rokok yang dibuang sembarangan oleh pengunjung, dan api ini terus menjalar ke beberapa titik,” ujar Hendro.
Petugas gabungan dari BB TNBTS, TNI, Polri, masyarakat desa setempat, dan relawan terus berupaya keras memadamkan api. Tim gabungan ini mengerahkan berbagai peralatan, termasuk pompa air dan selang, serta melakukan pemadaman secara manual. Kendala medan yang terjal dan angin kencang menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pemadaman.
Sebelumnya, petugas telah mengamankan empat orang terduga pelaku yang membuang puntung rokok di kawasan tersebut. Mereka adalah AW (37), ED (31), JN (30), dan KR (29), yang seluruhnya merupakan warga Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Keempatnya telah mengakui perbuatannya dan kini dalam proses pemeriksaan lebih lanjut.
Penutupan akses wisata ini tentu berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar yang bergantung pada sektor pariwisata. Namun, keselamatan dan kelestarian kawasan Gunung Bromo menjadi prioritas utama dalam situasi darurat ini.
