Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penambahan antihistamin H1 pada pasien dengan atopic dermatitis (AD) tidak memberikan perbaikan yang berarti pada keparahan penyakit, intensitas gatal, gangguan tidur, maupun kekambuhan. Hasil ini didasarkan pada tinjauan sistematis dan meta-analisis jaringan yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ.
Temuan ini mengakhiri keraguan selama puluhan tahun mengenai efektivitas antihistamin dalam penanganan atopic dermatitis. Derek K. Chu, MD, PhD, FRCPC, seorang profesor madya kedokteran di McMaster University, menyatakan, “Penelitian ini menyelesaikan ketidakpastian selama puluhan tahun mengenai apakah antihistamin harus digunakan untuk atopic dermatitis dan mendukung penolakan penggunaannya secara rutin hanya untuk mengobati atopic dermatitis (eksim).”
Analisis komprehensif yang melibatkan data dari berbagai studi ini mengamati dampak penambahan antihistamin H1 pada pasien AD. Hasilnya secara konsisten menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan signifikan dalam berbagai aspek penyakit, termasuk skor keparahan lesi kulit, tingkat gatal yang dilaporkan pasien, kualitas tidur yang terganggu akibat gejala, dan frekuensi atau keparahan eksaserbasi (kekambuhan) penyakit.
Meskipun demikian, Dr. Chu menambahkan catatan penting, “Antihistamin mungkin masih tepat…” Pernyataannya mengindikasikan bahwa dalam skenario klinis tertentu, antihistamin masih dapat dipertimbangkan, meskipun bukan sebagai terapi lini pertama atau tunggal untuk mengatasi atopic dermatitis.
Penelitian ini menggunakan metode meta-analisis jaringan, sebuah pendekatan statistik yang canggih untuk membandingkan berbagai intervensi secara bersamaan, bahkan jika intervensi tersebut belum pernah dibandingkan secara langsung dalam uji klinis. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk menarik kesimpulan yang lebih kuat dan dapat diandalkan mengenai efektivitas relatif berbagai pengobatan.
Kesimpulan utama dari tinjauan sistematis ini adalah bahwa penambahan antihistamin H1 pada rejimen pengobatan standar untuk atopic dermatitis tidak memberikan manfaat klinis yang substansial. Oleh karena itu, para profesional kesehatan disarankan untuk mengevaluasi kembali praktik penggunaan antihistamin secara rutin untuk kondisi ini dan mempertimbangkan alternatif terapi yang lebih terbukti efektif.
