Sebanyak 24 persen individu di lima negara bagian Amerika Serikat yang memiliki populasi kutu lone star diperkirakan menunjukkan hasil positif terhadap antibodi alpha-gal IgE. Temuan ini dipublikasikan dalam laporan Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR), menyoroti prevalensi sindrom alpha-gal (AGS) yang cukup tinggi di wilayah tersebut.
Alpha-gal adalah molekul gula yang ditemukan pada mamalia non-primata, dan gigitan kutu lone star (Amblyomma americanum) diketahui dapat memicu reaksi alergi pada sebagian orang yang terpapar. Paparan ini dapat menyebabkan sindrom alpha-gal (AGS), yang ditandai dengan reaksi alergi tertunda setelah mengonsumsi daging merah.
Dr. Eleanor F. Saunders, MD, MPH, asisten profesor kedokteran di UNC Health, menekankan pentingnya riwayat klinis dalam mendiagnosis AGS. “Diagnosis sindrom alpha-gal (AGS) harus dimulai dengan riwayat klinis yang mendetail,” ujar Dr. Saunders kepada Healio. Ia menambahkan bahwa jika pasien menunjukkan gejala yang konsisten dengan AGS, maka pengujian alpha-gal IgE menjadi langkah yang tepat.
Studi yang dipublikasikan dalam MMWR ini mengindikasikan bahwa proporsi populasi yang tinggi di beberapa wilayah AS memiliki hasil tes positif terhadap alpha-gal. Hal ini menguatkan korelasi antara keberadaan kutu lone star dengan peningkatan kasus AGS.
Meskipun studi ini tidak merinci negara bagian mana saja yang termasuk dalam penelitian, keberadaan kutu lone star yang sudah mapan di lima negara bagian tersebut menjadi faktor utama yang diidentifikasi. Kutu ini dikenal agresif dan dapat menyebarkan berbagai patogen, termasuk yang memicu respons imun terhadap alpha-gal.
