Terapi pemeliharaan lenalidomide tanpa batas waktu ternyata tidak memberikan peningkatan signifikan terhadap angka harapan hidup dibandingkan dengan regimen selama 2 tahun bagi pasien multiple myeloma risiko standar. Studi fase 3 acak ini juga menemukan bahwa pasien yang menerima terapi berkelanjutan mengalami efek samping yang lebih banyak, termasuk peningkatan risiko keganasan primer kedua.
Temuan ini mengindikasikan bahwa durasi terapi 2 tahun sudah memadai untuk pasien multiple myeloma dengan risiko standar. “Uji klinis ini dengan jelas menunjukkan bahwa pemberian lenalidomide selama 2 tahun sudah cukup bagi pasien dengan multiple myeloma risiko standar,” ujar Shaji Kumar, MD, ketua riset divisi hematologi di Mayo Clinic, kepada Healio.
Penelitian ini melibatkan pasien multiple myeloma risiko standar yang sebelumnya telah menjalani terapi induksi. Mereka kemudian secara acak dialokasikan untuk menerima terapi pemeliharaan lenalidomide tanpa batas waktu atau selama 2 tahun. Hasilnya, tidak ada perbedaan signifikan dalam kelangsungan hidup bebas perkembangan (progression-free survival) maupun kelangsungan hidup keseluruhan (overall survival) antara kedua kelompok tersebut setelah periode tindak lanjut yang ditentukan.
Namun, kelompok yang menerima terapi lenalidomide tanpa batas waktu menunjukkan angka kejadian efek samping yang lebih tinggi. Ini termasuk peningkatan risiko infeksi, ruam kulit, dan yang lebih mengkhawatirkan, peningkatan insiden keganasan primer kedua. Kategori keganasan primer kedua ini mencakup berbagai jenis kanker baru yang muncul pada pasien yang sama, yang tidak terkait langsung dengan penyakit myeloma awal.
Kumar menambahkan, “Manajemen toksisitas menjadi pertimbangan penting dalam pengobatan jangka panjang. Dengan adanya bukti bahwa terapi 2 tahun memberikan hasil yang setara dalam hal kelangsungan hidup namun dengan profil keamanan yang lebih baik, maka pendekatan ini menjadi lebih menarik.” Keputusan untuk menghentikan terapi lenalidomide setelah 2 tahun pada pasien dengan risiko standar dapat membantu mengurangi beban toksisitas dan potensi komplikasi jangka panjang.
