Thursday, 30 July 2026
BREAKING
KESEHATAN

Ambiguitas Regulasi dan Alur Kerja Hambat Adopsi Teknologi Wearable di Layanan Kesehatan

Oleh Rini Widiyarti July 30, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Meskipun para dokter menyambut baik potensi teknologi wearable di bidang medis, kendala signifikan seperti masalah penggantian biaya (reimbursement) dan integrasi alur kerja klinis telah menghambat pemanfaatannya secara luas. Hal ini terungkap dari hasil survei terbaru yang dirilis oleh American Medical Association (AMA).

Survei yang bertajuk ‘2026 International Physician Survey on Consumer Wearables’ ini merupakan kolaborasi antara AMA’s Center for Digital Health and AI dengan Medscape. Sebanyak 2.222 dokter dari Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Jerman, Spanyol, dan Inggris berpartisipasi dalam survei ini. Data yang dikumpulkan mencakup beragam aspek, mulai dari data yang dihasilkan pasien melalui perangkat wearable, tingkat kepercayaan dokter terhadap kualitas data tersebut, hingga tantangan terkait penggantian biaya dan alur kerja.

Salah satu temuan kunci dari survei tersebut adalah kesenjangan antara antusiasme dokter terhadap teknologi wearable dan realitas penerapannya di lapangan. Dr. Matthew J. Murphy, seorang anggota AMA Board of Trustees, menyatakan, “Kami melihat para dokter sangat antusias dengan potensi teknologi wearable untuk memberikan wawasan baru tentang kesehatan pasien. Namun, hambatan struktural yang ada saat ini menghalangi kemajuan.” Ia menambahkan, “AMA berkomitmen untuk mengatasi hambatan ini guna memastikan teknologi digital dapat memberikan manfaat maksimal bagi dokter dan pasien.”

Masalah penggantian biaya menjadi isu sentral yang disoroti oleh para responden. Banyak dokter merasa tidak yakin bagaimana cara mendapatkan kompensasi atas waktu yang dihabiskan untuk meninjau data yang dihasilkan oleh perangkat wearable pasien. Selain itu, integrasi data wearable ke dalam rekam medis elektronik (EHR) yang sudah ada juga menjadi tantangan teknis dan logistik yang kompleks. Dokter seringkali kesulitan menemukan cara yang efisien untuk memasukkan data ini ke dalam sistem yang ada tanpa menambah beban kerja mereka.

Tingkat kepercayaan terhadap kualitas data yang dihasilkan oleh perangkat wearable juga bervariasi. Meskipun beberapa perangkat dianggap cukup akurat, masih ada kekhawatiran mengenai konsistensi dan validitas data, terutama untuk kondisi medis yang kritis. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana dokter dapat mengandalkan data tersebut untuk membuat keputusan klinis yang penting.

Menanggapi temuan ini, AMA berencana untuk terus bekerja sama dengan pembuat kebijakan, penyedia teknologi, dan komunitas medis untuk mengembangkan solusi yang dapat mengatasi hambatan-hambatan yang ada. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan di mana teknologi wearable dapat diintegrasikan secara mulus ke dalam praktik klinis, meningkatkan pemantauan pasien, dan pada akhirnya, memperbaiki hasil kesehatan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp