Program Pintu Residency berhasil menjembatani dua budaya melalui kolaborasi unik antara desainer Indonesia dan Prancis. Hasilnya adalah perpaduan memukau antara kekayaan wastra Nusantara, khususnya Batik Mojokerto dan Tenun Lombok, dengan sentuhan estetika kontemporer dari kedua negara.
Proyek ini mempertemukan desainer-desainer berbakat dari Indonesia dan Prancis untuk saling bertukar ide dan teknik dalam menciptakan karya seni busana inovatif. Selama periode residency, para desainer mendapatkan kesempatan untuk mendalami keunikan serta filosofi di balik Batik Mojokerto dan Tenun Lombok, sebelum kemudian mengaplikasikannya dalam rancangan mereka.
Salah satu desainer yang terlibat, Vincent Garnier, mengungkapkan kekagumannya terhadap proses pembuatan Batik Mojokerto. “Prosesnya memakan waktu yang sangat panjang dan membutuhkan ketelitian luar biasa. Ini adalah bentuk seni yang sangat mendalam,” ujar Garnier. Ia terkesan dengan detail dan kerumitan motif yang dihasilkan, yang menurutnya menyimpan cerita serta warisan budaya yang kaya.
Di sisi lain, desainer Indonesia, Riana, menyoroti keindahan dan keunikan Tenun Lombok. “Tenun Lombok memiliki karakter yang kuat dan warnanya sangat khas. Saya ingin menangkap esensi itu dan membawanya ke dalam desain yang lebih modern,” jelas Riana. Ia berupaya memadukan teknik tradisional tenun dengan siluet dan gaya busana masa kini, menciptakan harmoni antara tradisi dan modernitas.
Pintu Residency tidak hanya menjadi wadah kolaborasi kreatif, tetapi juga sarana edukasi dan apresiasi terhadap kekayaan budaya Indonesia di mata internasional. Melalui proyek ini, diharapkan Batik Mojokerto dan Tenun Lombok dapat semakin dikenal dan diapresiasi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di kancah global.
Acara penutupan Pintu Residency yang berlangsung pada 7 Mei 2024 lalu di Galeri Nasional Indonesia menjadi saksi bisu lahirnya koleksi-koleksi menakjubkan yang siap memukau pecinta mode. Pameran ini menampilkan berbagai busana yang terinspirasi dari motif dan teknik Batik Mojokerto serta Tenun Lombok, yang diinterpretasikan ulang oleh para desainer dalam berbagai bentuk dan gaya.
