Suasana meriah dan penuh nostalgia menyelimuti Padepokan Ciliwung Condet, Jakarta Timur, pada Sabtu, 25 Juli 2026. Ribuan pengunjung memadati area bantaran Kali Ciliwung untuk menyaksikan Festival Ciliwung VII yang tahun ini mengangkat tema “Nostalgia Kampung Betawi”. Acara ini menjadi ajang untuk mengenalkan kembali kekayaan budaya Betawi di tengah perkembangan kota metropolitan.
Festival Ciliwung VII bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah upaya pelestarian budaya. Berbagai kegiatan menarik dihadirkan untuk membangkitkan memori tentang kehidupan masyarakat Betawi tempo dulu. Pengunjung dapat merasakan langsung atmosfer kampung Betawi melalui berbagai stan yang menampilkan seni pertunjukan, kuliner khas, hingga kerajinan tangan tradisional.
Salah satu daya tarik utama festival ini adalah adanya pertunjukan seni yang memukau. Tarian tradisional Betawi seperti Tari Topeng Betawi dan Lenong Betawi berhasil membius penonton dengan gerakan energik dan cerita yang sarat makna. Suara gamelan dan tabuhan rebana mengalun merdu, membawa pengunjung seolah kembali ke masa lalu.
Tak ketinggalan, stan kuliner menyajikan aneka hidangan lezat khas Betawi yang jarang ditemui sehari-hari. Mulai dari Gabus Pucung, Soto Betawi, hingga Bir Pletok, semuanya tersaji menggugah selera. Aroma rempah-rempah yang khas menyeruak, menarik perhatian para pengunjung untuk mencicipi kelezatan masakan Betawi asli.
Selain sajian kuliner dan seni pertunjukan, Festival Ciliwung VII juga menampilkan berbagai kerajinan tangan lokal. Pengunjung dapat melihat demonstrasi pembuatan batik Betawi, ukiran kayu, serta berbagai produk kerajinan lain yang menjadi ciri khas masyarakat Betawi. Hal ini menjadi sarana edukasi yang baik, terutama bagi generasi muda, untuk mengenal dan menghargai warisan leluhur.
Perhelatan ini juga menjadi momen penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan Kali Ciliwung. Berbagai kegiatan lingkungan seperti pembersihan sungai dan edukasi tentang pengelolaan sampah turut disosialisasikan kepada pengunjung. Ketua Panitia Festival Ciliwung VII, Budi Santoso, menyatakan, “Festival ini kami gelar tidak hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga sebagai pengingat bahwa Ciliwung adalah urat nadi kehidupan Jakarta yang perlu kita jaga bersama.”
Festival Ciliwung VII yang berlangsung selama sehari penuh ini mendapatkan apresiasi positif dari berbagai kalangan. Keberhasilan acara ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin tahunan yang terus melestarikan budaya Betawi dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan Kali Ciliwung.
